Showing posts with label Iklan Televisi. Show all posts
Showing posts with label Iklan Televisi. Show all posts

PILIHAN BAHASA DALAM IKLAN TELEVISI

PILIHAN BAHASA DALAM IKLAN TELEVISI


BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Televisi sebagai salah satu media komunikasi massa memiliki peran yang
besar dalam menyebarkan informasi dan memberikan hiburan ke semua lapisan
masyarakat. Televisi merupakan media massa audiovisual yang sifatnya berbeda
dengan media lain. Media cetak mempunyai kekuatan pada sisi visualnya, media
audio (radio) mempunyai kekuatan pada sisi suara, dan media audiovisual
memiliki kekuatan keduanya. Hampir setiap rumah di wilayah Indonesia terdapat
televisi yang hampir selama 24 jam dinyalakan untuk menerima siaran dari
berbagai stasiun televisi. Dengan demikian, media televisi memiliki kekuatan
informatif persuasif yang lebih tinggi dibandingkan dengan media lainnya
sehingga media ini dapat dikatakan lebih sempurna dan efek yang ditimbulkannya
pun lebih dasyat baik yang positif maupun yang negatif bila dibandingkan dengan
kedua media tersebut.
Oleh karenanya, media komunikasi ini oleh para pengusaha dimanfaatkan
sebagai sarana promosi yang dikemas dalam bentuk iklan televisi. Agar menarik
perhatian, iklan televisi diusahakan untuk dibuat semirip mungkin dengan
kejadian-kejadian kehidupan nyata masyarakat yang menjadi sasarannya. Sebuah
paket iklan televisi sering mengadirkan fenomena kemasyarakatan yang tengah
berlangsung dan menjadi tren di kalangan masyarakat. Untuk memberikan
pengaruh yang kuat, dimunculkan beberapa peristiwa tutur yang dilakukan oleh
para bintang iklan untuk menghadirkan gambaran kehidupan nyata yang ada di
masyarakat, sehingga dapat mempengaruhi atau mempropaganda minat
masyarakat untuk menjadi konsumen produk yang ditawarkan.
Iklan televisi semestinya dapat dikaji dari sudut pandang studi bahasa
karena pada dasarnya, iklan televisi menggunakan bahasa sebagai sarana
penyampai pesan kepada konsumen. Dengan kata lain terdapat penggunaan
bahasa dalam sebuah paket iklan televisi. Studi bahasa yang sering dipergunakan
untuk mengkaji bahasa iklan televisi dalam beberapa penelitian kebahasaan adalah
pragmatik, yaitu sebuah bidang kajian ilmu bahasa yang memperhatikan fungsi
pemakaian bahasa di masyarakat.
Namun demikian tidak menutup kemungkinan adanya bidang studi ilmu
kebahasaan lain yang dapat dipergunakan untuk mengkaji bahasa dalam iklan
televisi. Dengan demikian harus ada sudut lain dalam bahasa iklan televisi yang
perlu dicermati. Salah satunya adalah pada peristiwa tutur yang dilakukan oleh
para bintang iklan dalam sebuah iklan televisi. Ujaran atau tuturan yang dilakukan
oleh para bintang iklan pada peristiwa tutur dalam iklan televisi bukan kejadian
atau peristiwa yang benar-benar terjadi sebagai fakta nyata di masyarakat, tetapi
sebagai dunia tersendiri dalam bentuk fragmen atau pertunjukan acara televisi
yang memiliki tokoh, dialog, alur cerita dan konteks. Iklan televisi memuat
beberapa peristiwa tutur yang dapat dipergunakan sebagai data dalam sebuah
penelitian studi kebahasaan. Peristiwa tutur yang dimaksud dapat dilihat pada
contoh iklan berikut ini.
KONTEKS: BEBERAPA PEMUDA BERKUMPUL DI SEBUAH RUMAH,
KEMUDIAN TIBA-TIBA ADA TELEPON BERDERING, YANG TERNYATA
BERASAL DARI SEORANG GADIS CANTIK, CENTIL, GENIT, BERBAJU
MERAH DAN MEMAKAI LIPSTIK MERAH. TELEPON BERDERING
KRIIIING...KRIIIING
BI(1)/pemuda : Halo?
BIU (si gadis) : Jumat ini kamu ada acara nggak?
BI(1)/pemuda : Saya lihat kalender dulu ya.
Jingle : Gudang Garam (para pemuda tertawa bersama).
Jingle : Gudang Garam Merah ...
BIU (si gadis) : Yes...!
Teks : Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung,
impotensi, gangguan kehamilan dan janin.
Pada contoh peristiwa tutur dalam iklan rokok Gudang Garam Merah di atas
terlihat adanya penggunaan campur kode. Penggunaan tersebut terdapat pada kata
nggak dan kata yes. Kata nggak merupakan kata nonbaku dari tidak. Penggunaan
kata tersebut bertujuan untuk mengakrabkan suasana. Kata yes merupakan kata
yang diambil dari bahasa Inggris yang dipakai untuk menciptakan sebuah suasana
yang modern. Dari tuturan bintang iklan tersebut diharapkan pada para konsumen
untuk tertarik pada produk yang mereka iklankan.
Peristiwa tutur tersebut di atas dapat dikaji dalam penelitian studi
kebahasaan, dan studi kebahasaan yang dimaksud adalah sosiolinguistik.
Sosiolinguistik adalah sebuah bidang kajian pada disiplin ilmu bahasa yang salah
satu tugasnya mempelajari pengaruh lingkungan sosial terhadap bentuk pilihan
bahasa pada masyarakat yang bersangkutan. Pilihan bahasa sebagai peristiwa
sosial tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor linguistik, tetapi juga oleh
faktor-faktor di luarnya. Pilihan bahasa erat terkait dengan situasi sosial
masyarakat pemakainya. Perbedaan usia, tingkat pendidikan, dan status sosial
seseorang dapat mempengaruhi pilihan bahasanya ketika berbicara dengan orang
lain. Demikian pula situasi yang melatarbelakangi sebuah pembicaraan dapat
mempengaruhi bagaimana sebuah bahasa akan dipergunakan. Pengaruh faktorfaktor
sosial maupun situasional terhadap pilihan bahasa ini menimbulkan adanya
variasi-variasi pilihan bahasa.
Jika peristiwa tutur yang terdapat dalam iklan televisi boleh dianggap
sebagai kejadian kebahasaan yang dikaji melalui sudut pandang sosiolinguistik,
maka penelitian ini mendeskripsi pilihan bahasa pada peristiwa tutur dalam iklan
televisi.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah wujud pilihan bahasa pada peristiwa tutur dalam iklan
televisi ?,
2. Faktor-faktor apa yang menentukan terjadinya pilihan bahasa pada
peristiwa tutur dalam iklan televisi?.
1.3 Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsi wujud pilihan bahasa pada peristiwa tutur dalam iklan
televisi;
2. Menentukan faktor-faktor yang menentukan terjadinya pilihan bahasa
pada peristiwa tutur dalam iklan televisi.
1.4 Manfaat
Secara teoretis penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat
untuk pengembangan teori kebahasaan dan menambah informasi khazanah
penelitian kajian sosiolinguistik sebagai disiplin ilmu linguistik yang memusatkan
perhatiannya pada gejala kebahasaan di masyarakat.
Secara praktis, penelitian ini memberikan deskripsi tentang pilihan bahasa
pada peristiwa tutur dalam iklan televisi yang berupa variasi tunggal bahasa, alih
kode, dan campur kode serta faktor sosial yang mendukungnya. Temuan tersebut
diharapkan memberi kontribusi data dasar bagi penelitian lanjutan yang sejenis
serta dapat menambah pengetahuan bagi pembaca, peneliti dan para pemerhati
masalah kebahasaan.

PENGARUH IKLAN TELEVISI

Oleh S. Bekti Istiyanto, S.Sos**

Pendahuluan
Perkembangan dunia televisi di Indonesia menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Hanya dalam beberapa tahun muncul lima stasiun swasta RCTI, SCTV, TPI, AN TV, dan INDOSIAR. Ke lima stasiun swasta ini saling bersaing membuat sajian informasi, hiburan dan pendidikan. Tentu saja perkembangan seperti itu tidak dapat dilepaskan dari dukungan dana yang besar. Dan sumber terbesar untuk mendapatkan dana ini, tidak bisa dilepaskan dari dunia iklan. Apalagi dengan munculnya televisi swasta, dipastikan jumlah iklan yang beredar akan sangat besar karena memang dibutuhkan oleh pengelola media massa, seperti televisi. Akibatnya, televisi ibarat pasar bebas hasil produk yang ditawarkan langsung kepada masyarakat.

Permasalahan
Tentu saja iklan di televisi ini akan dipastikan mempunyai dampak yang besar buat masyarakat. Hotman Siahaan mengatakan bahwa iklan mempunyai dampak yang besar terhadap pola pemikiran dan pola konsumsi masyarakat, bahkan bisa menjadi racun bagi masyarakatnya (Citra, 12/5/1996). Apalagi dalam waktu dekat ini akan muncul dan beroperasi lima stasiun televisi baru, bisa dibayangkan seperti apa wajah Indonesia ke depan.
Dunia kita sekarang ini adalah dunia iklan. Betapa tidak, dari kita bangun tidur sampai menjelang tidur lagi informasi hasil produk atau informasi dalam bentuk iklan telah demikian merasuk pemikiran kita. Dengan ditambah media massa yang semakin canggih, maka dapat dibayangkan penikmat media massa alias konsumen komunikasi akan terus dijejali memorinya dengan berbagai jenis iklan yang ditayangkan/disiarkan.
Periklanan secara definisi dapat dimengerti dari Philip Kotler dalam Manajemen Pemasaran berarti sebagai bentuk penyajian tidak personel dan promosi ide, barang atau jasa oleh seorang sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. Pihak yang mengeluarkan uang tersebut tidak hanya perusahaan bisnis tapi bisa juga musium, profesional, dan organisasi sosial yang mengiklankan tujuan-tujuan mereka pada berbagai masyarakat yang dituju (1995:740). Artinya, setiap orang atau lembaga baik produksi atau jasa yang ingin hasil produknya diketahui masyarakat membutuhkan iklan sebagai sumber informasi. Di sinilah berlaku hukum simbiosis mutualisme antara pihak masyarakat sebagai konsumen yang menginginkan informasi terbaru dan dibutuhkannya dengan pihak produsen sebagai penghasil produk tersebut.
Di sinilah muncul bahayanya bila setiap konsumen tidak mewaspadai barang apa saja yang mestinya benar-benar mereka butuhkan, tidak seperti orang jaman sekarang yang terpenting punya dan banyak tanpa tahu benar apakah barang tersebut memang mereka butuhkan atau tidak. Bisa jadi karena terpaan informasi iklan yang semakin gencar dan terus menerus mereka semakin konsumtif membelanjakan uangnya hanya demi gengsi dan status tanpa tahu kegunaan yang semestinya.
Untuk kebanyakan masyarakat tradisional Indonesia yang juga lebih banyak tinggal di daerah pedesaan, bisa berdampak secara negatif atas informasi melalui iklan ini. Mereka akan menuntut dan membebani diri mereka sendiri untuk memenuhi dan menggunakan hasil informasi produk iklan yang mereka terima tanpa melihat kemampuan yang semestinya. Mereka berbondong-bondong ke kota hanya menghabiskan persediaan uangnya karena kepuasan membeli barang yang sesuai iklan televisi dan kemudian memamerkan ke tetangga dan masyarakat mereka dan akhirnya mereka akan kebingungan karena anggran rumah tangganya yang defisit dan tidak jelasnya kegunaan barang yang mereka punyai tadi.
Maka filter yang utama yang akan mampu membentengi masyarakat agar kebal dan tidak setiap informasi yang masuk mereka telan, adalah dengan pemberdayaan masyarakat, terutama dari faktor pendidikan. Mereka harus dibekali kesadaran betapa pentingnya kebutuhan utama itu mesti dipenuhi dulu, termasuk pendidikan keluarga, setelah itu baru kebutuhan sekunder. Sehingga dengan itu, ada tawaran alternatif nilai-nilai yang akan dijadikan sandaran keputusan. Artinya, masyarakat harus didewasakan dan mampu berpikir secara jernih dalam memuaskan seleranya adalah sesuai keperluan yang pokok tidak asal-asalan saja.

Penutup
Iklan bagaimanapun juga tetap kita perlukan. Dan kita tahu bahwa setiap informasi menggunakan media massa televisi akan lebih mengena karena faktor teknologi dan keunggulan media televisi dalam menyampaikan setiap bentuk informasi ke tengah masyarakat bahkan bisa secara langsung. Tapi bila tidak digunakan sebagaimana mestinya artinya sesuai dengan kebutuhan utama/pokok justru akan menjadi bumerang dan racun buat masyarakat itu sendiri.

Marketing Revolution, Iklan Televisi yang Efektif


PERNAHKAH Anda melihat suatu tayangan iklan di televisi, tapi Anda tidak paham apa maksudnya? Padahal, iklan tersebut sudah Anda lihat beberapa kali. Mungkin bukan hanya Anda yang pernah mengalami ini.

Cukup banyak orang yang merasa tidak begitu jelas apa sebenarnya maksud suatu iklan atau apa yang ditawarkan iklan itu. Seperti kita ketahui, iklan televisi biasanya hanya berdurasi 5?60 detik, meski ada juga yang lebih dari itu.Dalam waktu sangat singkat itu orang yang melihat seharusnya mampu menangkap pesan atau apa yang dimaksudkan dari iklan tersebut.

Lebih penting lagi,seharusnya yang melihat tahu apa yang ditawarkan dari iklan itu. Sebab, jika kita membuat iklan televisi, yang sangat perlu diperhatikan adalah apa yang sebenarnya kita tawarkan kepada calon konsumen. Sebagaimana kita tahu, meski hanya beberapa detik,biaya tayang iklan televisi mencapai puluhan juta rupiah, bahkan lebih (tergantung dari waktu tayang dan ratingacara).

Karena itu, dalam durasi yang singkat itu sebaiknya dalam membuat iklan televisi kita mempertimbangkan fokus marketing revolution, yaitu menciptakan penawaran yang begitu menarik dan bisa dipercaya. Untuk menciptakan penawaran yang menarik dan bisa dipercaya, sangat penting bagi kita memahami bagaimana manusia merespons sebuah penawaran.

Begitu kita mengetahui formula ini,maka akan sangat mudah untuk menciptakan penawaran yang menarik dan bisa dipercaya. Ketika seseorang menerima penawaran, dia akan bertanya kepada diri sendiri. Apa yang Anda tawarkan? Berapa harganya? Apakah benefit untuk saya? Varian dari pertanyaan ini, apakah kenikmatan yang ditawarkan lebih besar daripada kesengsaraan yang harus diberikan?

Apakah nilai yang didapatkan lebih besar dari nilai yang harus dibayarkan? Apakah perceivedvalueyang ditawarkan lebih besar dari risiko yang harus dijalani? Apakah laba yang dihasilkan lebih besar dari uang yang harus dikeluarkan? Pertanyaan selanjutnya, mengapa saya harus percaya kepada Anda? Terakhir, mengapa saya harus membeli sekarang?

Orang selalu menimbang antara positif dan negatif. Bila kenikmatan/positifnya lebih besar dibanding negatifnya/risikonya, atau bahkan risikonya menjadi nol, maka kemungkinan orang itu membeli akan lebih tinggi. Dengan bekal ini, penawaran yang sangat menarik dan bisa dipercaya dibuat dengan dua cara.

Pertama, meningkatkan kenikmatan/ perceived value/ return on investment/hal-hal yang positif. Kedua, mengurangi atau meniadakan keberatan/kesengsaraan/ risiko/hal-hal negatif. Jadi, sebisa mungkin kita harus mempertimbangkan halhal tersebut dalam membuat iklan televisi (atau iklan dengan media lainnya).

Alhasil, dengan anggaran yang tersedia serta durasi iklan yang singkat sekalipun kita bisa menghasilkan respons lebih positif dan efektif, yang akhirnya mampu membuat seseorang membeli (dengan segera) apa yang kita tawarkan alias melakukan real action sesuai pesan yang kita sampaikan dalam iklan.

Jika Anda punya kisah sukses setelah membaca dan mempraktikkan ilmu yang saya ajarkan, segera kirim cerita sukses Anda ke: tungdw@dahsyat. com. Kisah sukses yang inspirasional akan saya tampilkan di buku saya selanjutnya. Ini sekaligus kesempatan emas untuk mempromosikan produk atau jasa yang Anda tawarkan. (*)

Tung Desem Waringin
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia The most Powerful People and Ideas in Business 2005  
(Koran SI/Koran SI/rhs)
http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/05/11/23/218377/marketing-revolution-iklan-televisi-yang-efektif

IKLAN TELEVISI DALAM PERSEPSI KOMUNIKAN


IKLAN TELEVISI DALAM PERSEPSI KOMUNIKAN

Deddi Duto Hartanto
Dosen Jurusan Desain Komunikasi Visual
Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra

ABSTRAK
Berkembang pesatnya dunia periklanan di Indonesia tidak terlepas dari peranan televisi
swasta. Munculnya televisi swasta dengan iklan televisinya berhasil menggeser posisi iklan media
cetak dan radio. Setiap tayangan hiburan, informasi, film, kuis dan lain-lain tidak bisa dipisahkan
dari iklan. Melalui iklan televisi ini, para produsen dan kreator iklan berharap hasil karyanya dapat
diterima komunikan. Untuk itu kreator iklan. harus dapat memberikan persepsi yang jelas tentang
iklan yang dibuatnya.
Kata kunci: iklan televisi, persepsi iklan.

ABSTRACT
Private televisions have taken a role in the fast growing of advertising world in Indonesia.
The ascent of the private televisions with their commercial programs has shifted the position of
printed and radio commercials. All programs in the television such as entertaintment, news,
movies, quizzes, etc. are inseparable with TV commercials. Through these commercials,
advertising producers and their creative team expect their commercials, advertising producers
and their creative team expect their works perceived by the public. accordingly, TV commercial
creators should give a clear perception of the ad they made.
Keywords: tv commercials, advertisement perception.

PENDAHULUAN
Industri periklanan di Indonesia meningkat pesat setelah munculnya televisi
swasta. Dengan adanya televisi swasta masyarakat bisa menikmati berbagai tayangan
hiburan, informasi, olahraga, kesenian dan sebagainya. Hampir semua acara televisi
swasta padat dengan iklan. Sekali “break” bisa 10 jenis iklan dimunculkan. Pemahaman
komunikan terhadap pesan iklan tergantung atas persepsi masing-masing yang menikmati
iklan tersebut. Sementara itu, persepsi komunikan terhadap suatu iklan menentukan
berhasil tidaknya suatu iklan. Kreator iklan idealnya sudah memperhitungkan secara
matang impact persepsi tersebut. Dalam perkembangannya terakhir, banyak iklan yang
harus diganti atau direvisi karena alasan dari persepsi komunikan.

IKLAN TELEVISI DALAM PERSEPSI KOMUNIKAN (Deddi Duto Hartanto)


Masih ingat kasus iklan Kopi Torabika ?. Seorang laki-laki melihat acara
televisi. Muncul seorang wanita memberikan kopi . Pada adegan ini menggambarkan
wanita berjalan mendekat, kamera tepat mengarah pada dada wanita. “Pas…Susunya !”.
Masyarakat bereaksi. Iklan Kopi Torabika dihentikan penayangannya. Visual yang
kontroversial itu harus diganti. Demikian pula dengan iklan produk wanita Vaseline
Intensive Care. Visual iklannya menampilkan gambar seorang gadis terlentang,
bercelana pendek, dengan kakinya yang mulus diangkat lurus ke atas. Bunyi naskahnya,
“Smoth Legs and Feet, kaki 40 % lebih halus, lebih lembut”. Iklan ini ingin membuktikan
kepada audience, bahwa kalau Anda menggunakan produk ini hasilnya akan seperti ini.
Tapi sementara orang mempunyai persepsi yang berbeda. Iklan ini mengundang protes
dari berbagai kalangan dan dianggap sebagai iklan yang porno.
Contoh lain dijumpai pada produk sabun Citra. Visual iklan menampilkan seorang
gadis Jawa mandi dengan setting sebuah desa alami dan sejuk. Di sini kesan tradisional
terasa kental .Setelah beberapa kali muncul di televisi dan dievaluasi ternyata persepsi
image yang diharapkan melenceng. Segmentasi pasar yang diharapkan adalah kelas
menengah ke atas, tetapi justru yang banyak membeli sabun Citra kelas menengah bawah
utamanya wanita pedesaan. Akhirnya visual iklan harus diubah. Setting visual tak lagi
mandi di desa, tapi memakai bak mandi yang serba “wah”.
Kemenarikan dan mahalnya suatu iklan tidak bisa dijadikan ukuran keberhasilan
suatu iklan. Disini persepsi komunikan terhadap iklan ternyata lebih menentukan.

PERKEMBANGAN DUNIA PERIKLANAN
Terobosan kemajuan teknologi berdampak mengubah perilaku manusia. Keinginan
memenuhi kebutuhan pokok yang semula sederhana berkembang menumbuhkan
kebutuhan lain yang semakin kompleks. Barang-barang untuk memenuhi kebutuhanpun
makin banyak dan memunculkan persaingan dalam menawarkan produknya. Salah satu
cara efektif untuk menawarkan produk adalah dengan beriklan. Dalam memperkenalkan
produk tersebut kepada konsumen dibutuhkan strategi periklanan yang tepat. Disini
produsen bekerjasama dengan advertising agency untuk dibuatkan konsep iklan yang
tepat. Sejak kehadiran televisi swasta biro iklan di Indonesia telah berkembang secara
pesat. Dalam perkembangannya sekarang diperkirakan sudah ribuan perusahaan
periklanan hadir sebagian besar berkedudukan di Jakarta. Dari jumlah itu 10 besar teratas
Merupakan afiliasi dengan biro iklan asing. Menurut (Cakram edisi Desember 1997/166)
biro iklan asing, utamanya Amerika Serikat, Indonesia merupakan pasar penting di Asia
seperti halnya Cina dan India. Pasar di negara maju tumbuh di bawah lima persen,
sementara itu pasar negara berkembang tumbuh pesat. Jika industri periklanan di
Amerika Serikat tumbuh sekitar dua hingga tiga persen, di Indonesia angkanya sepuluh
kali lebih besar, bahkan mungkin lebih dari itu.
Banyaknya biro iklan asing yang berafiliasi dengan biro iklan lokal merupakan
suatu gejala yang tidak bisa dihindari bersamaan dengan kebijaksanaan Pemerintah
membuka peluang investasi asing untuk mempercepat pembangunan di Indonesia.
Bahkan dari sepuluh pasar penting di Asia Pasifik hanya Jepang dan Korea, biro iklan
lokal dapat tampil dominan di lima besar biro iklan setempat. Seperti yang diungkapkan
Waheed Batti (Majalah Cakram edisi Desember 1997/166) Jepang memiliki besaran
ekonomi jauh di atas negara Asia lainnya. Secara signifikan hal itu serupa dengan Korea,
selain itu baik Jepang maupun Korea merupakan dua negara yang memiliki budaya yang
sangat kuat. Yang memiliki rasa nasionalisme untuk betul-betul berdiri sendiri. Dengan
segala bentuk proteksi ala Chaebol di masa awal, Korea dan Jepang berhasil menciptakan
industrinya dan sekaligus menciptakan industri periklanan yang kokoh.
Industri Periklanan memang memerlukan kreatifitas, karena masyarakat selalu
membutuhkan hal-hal yang baru. Inilah suatu tantangan bagi biro iklan lokal untuk siap
bersaing dengan biro iklan yang berafiliasi dari luar.

IKLAN TELEVISI
Semenjak munculnya beberapa televisi swasta, semenjak itu pula iklan televisi
menjadi primadona media beriklan. Menurut Farbey (1987) televisi merupakan media
yang banyak disukai kalangan pengiklan karena akibat yang ditimbulkannya. Televisi
menggunakan warna, suara, gerakan, dan musik. Selain itu pemirsanya dapat diseleksi
menurut jenis program dan waktu tayangannya. Televisi adalah media yang mampu
menjangkau wilayah luas, dapat dimanfaatkan oleh semua pengiklan untuk tes pemasaran
atau peluncuran suatu produk baru. Menurut Media Scene 1998/1999 belanja iklan di
televisi semenjak 1995 sampai 1999 selalu menduduki peringkat I (lihat tabel).
Iklan televisi menurut Sutedjo Hadiwasito (1996) dapat diklasifikasikan dalam
beberapa kategori pesan visual yang disampaikan yaitu:
• Fakta (langsung tanpa embel-embel, fakta yang dibumbui atau didramatisir).

IKLAN TELEVISI DALAM PERSEPSI KOMUNIKAN (Deddi Duto Hartanto)

• Perbandingan (perbandingan langsung dua produk yang saling bersaing di pasar).
• Kisah hidup (memperlihatkan ka itan produk dengan pemakai dalam keadaan normal).
• Gaya hidup (lebih menitik beratkan pada gaya hidup seorang atau lebih yang
merupakan pemakai dari produk tersebut).
• Fantasi (khayalan tentang produk yang bersangkutan atau penggunaannya).
• Still life (menggambarkan produk-produk dalam keadaan diam, namun dibuatnya
menarik dengan permainan kamera).
• Demontrasi (demonstrasi penggunaan produk).
• Metafor (meminjamkan benda lain sebagai simbol atau gambaran yang terdekat
dengan suatu produk).
• Image (menggambarkan suasana hati atau sebuah citra).
• Musikal (menyajikan satu orang atau lebih yang menyanyikan sebuah lagu yang
berkaitan dengan sebuah produk).
• Karakter (menciptakan simbol atau karakter yang melambangkan sifat sebuah
produk).
• Drama (dramatisasi dari kegunaan atau manfaat sebuah produk).
• Reportase (menampilkan seseorang yang mewakili perusahaan atau produk dengan
komentar atau berita tentang produk yang bersangkutan).
• Testimonial (menampilkan seseorang yang mewakili perusahaan atau produk dengan
komentar atau berita tentang produk yang bersangkutan).
• Teknis (hal-hal teknis sekitar produksi sebuah produk untuk memperkuat citra).
• Bukti Ilmiah (bila ada bukti-bukti ilmiah bisa memperkuat produk).
• Analogi (meminjam daya tarik benda lain yang sesungguhnya ytak berhubungan
langsung).
• Humor (iklan yang bisa mengambil bintang utama pelawak)
Meskipun jalan cerita atau visual iklan televisi menarik belum tentu komunikan
yang dituju mengerti maksud pesan yang disampaikan. Disini persepsi komunikan sangat
berperan untuk menentukan keberhasilan iklan.

PERSEPSI IKLAN SEKSUALITAS
Tampilan iklan-iklan yang mengarah ke kegiatan seksual biasanya menarik, bagi
masyarakat golongan tertentu. Contohnya visualisasi beberapa produk obat kuat atau
Suplemen yang sering “nyrempet” ke hal-hal yang cenderung berbau seks. Padahal
rambu-rambu seksualitas sudah diatur dalam Tata Krama Periklanan Indonesia. Kenapa
masih bisa lolos ?. Berikut ini diberikan beberapa contoh iklan yang “nyrempet” ke arah
konotasi seksualitas.
Supertin
Produk multivitamin ini sempat melejit dengan keyword-nya “Lho...kok loyo...?”.
Dari keyword inilah muncul persepsi masyarakat bahwa “lho kok loyo” berarti seseorang
yang tidak mampu menyelesaikan aktivitas seksual.
Hemaviton
Iklan terbaru Hemaviton menampilkan dialog artis Meriam Bellina dan Inneke
Koesherawati yang akan menikah. Inneke meminta saran kepada Meriam Bellina
mengenai rahasia membahagiakan suami. Tayangan iklan diakhiri dengan adegan rambut
Inneke yang basah sehabis keramas. Persepsi masyarakat terhadap rambut basah Inneke
serta ungkapan kepuasan “luar biasa” ini sekali lagi bermuatan seksualitas.
Kuku Bima Ginseng
Iklan ini sempat menghebohkan masyarakat. Dialognya yang berbunyi “belum
game kok sudah keluar...?” dipersepsikan komunikan sebagai ungkapan berbau seks yang
tak layak tayang. Mungkin agak sulit memvisualkan iklan yang jelas-jelas memang obat
kuat, dari visual dan kata-katanya yang vulgar membuat iklan Kuku Bima Ginseng harus
direvisi kembali iklannya yang jelas “masih bisa lagi.....!”, tetap tayang lagi.
Kondom Artika
Dalam Media Indonesia iklan Kondom Artika dianggap bagai buah Simalakama,
barangkali inilah perumpamaan yang sesuai buat munculnya iklan kondom. Alat
kontrasepsi ini sangat dibutuhkan, baik untuk pengaturan kehamilan atau pencegahan
penularan penyakit, tapi di lain pihak budaya kita masih menganggapnya tabu, sehingga
waktu iklannya muncul, orang ramai-ramai protes dianggap tidak pantas. Bagi sebagian
orang menangkap pesan iklan Kondom Artika yang visualnya tidak terlalu vulgar hanya
setting-nya suasana malam hari lebih mendekati penggunaan produknya. Mungkin kalau
kita cermati arti kata meong yang diucapkan akan sangat paham maksud arti kata
tersebut. Dan kasus yang membuat iklan Kondom Artika mendapat teguran adalah jam
tayangnya yang tidak sesuai dengan kesepakatan. Kondom Artika tayang di jam-jam
prime time di seluruh televisi swasta, inilah yang membuat Kondom Artika bermasalah.

PERSEPSI IKLAN ROKOK
Salah satu kategori iklan yang dibatasi adalah iklan rokok. Batasan yang ditulis
dalam Kode Etik Periklanan adalah iklan rokok tidak boleh memperlihatkan produknya
serta penggunaannya. Tapi dalam perkembangan terakhir sudah banyak beberapa produk
yang mendekatkan visual rokoknya dengan color image, kemasan luar, atau korek api
yang dinyalakan. Karena batasan itulah tampilan iklan rokok banyak memberikan image
atau simbolisasi visual iklannya. A-Mild salah satu produk dari Sampoerna tampilan
iklannya bervariasi mulai How Low Can You Go sampai Badai Pasti Berlalu. Pall Mall
dengan visual yang cukup menarik mencoba mendekati kehidupan gaya kelas menengah
yang biasanya bersosialisasi pada malam hari. Rokok Djarum semakin intensif melalui
program Liga Italia dan Inggris tampilan iklannya lebih memamerkan “rasa”. Djarum
Super “Yang Penting Rasanya Bung”, sementara Djarum Coklat dengan “Djarum
Gurih, Djarum Harum, Djarum Nikmat. Rokok Marlboro visual iklannya tampil
konsisten dengan “koboi Amerikanya”, Wismilak mencoba mendekatkan sebuah
keberhasilan seperti dalam iklan terbarunya yang mirip Marlboro. Semua tampilan
dalam iklan rokok berusaha membangun citra merek kepada konsumen dengan
pendekatan simbolis. Tapi kadang dengan visual iklan yang simbolis tersebut membuat
konsumen tidak mengerti apa maksud iklannya.

PERSEPSI IKLAN PERBANDINGAN
Masih ingat dengan visual iklan obat nyamuk semprot Force Magic. Iklannya yang
langsung tampil dengan pendekatan perbandingan dengan merek lain ini langsung
menyulut kontroversi. Pesan yang disampaikan dalam iklan Force Magic adalah
menjelaskan dampak bahan beracun yang menyebabkan penyakit kanker. Tapi dalam
visual iklannya Force Magic seakan “menuduh” obat nyamuk semprot terkenal
(Baygon). Dalam iklan televisi produk kompetitor ditampilkan dengan warna yang sama
tapi tanpa diperlihatkan nama produknya. Kemudian iklan perbandingan yang lain yang
mengundang kontroversial adalah iklan Adem Sari yang menampilkan visual produk
lain tapi tidak diperlihatkan secara jelas. Menampilkan produk sejenis sesama kompetitor
tidak diperbolehkan dalam Tata Krama Periklanan Indonesia, selain bisa membuat perang
sesama produk sejenis, juga semakin membingungkan konsumen yang dituju.

PENUTUP
Bagi kreator iklan membuat iklan tentunya sudah dipertimbangkan secara matang
dan diharapkan iklannya bisa berhasil memberikan image di benak konsumen pada
akhirnya produknya juga laku terjual. Tapi kadang memberikan image di benak
konsumen tidak mudah, konsumen sudah mulai kritis dan jeli, konsumen tidak asal
menerima, jadi disini persepsi iklan mejadi penting sekali.
Iklan Supertin dengan keyword-nya lho..kok loyo..? sangat melekat dipikiran
masyarakat, bahkan sampai pelosok tanah air. Tapi seperti yang ditulis Rita SE dalam
Media Indonesia ternyata banyak pria mengaku enggan menggunakan obat tersebut,
karena ada rasa malu ketika membeli. Mereka malu dan takut dibilang loyo karena ada
kesan konsumen yang membeli obat tersebut loyo. Dan bagi pria tentu saja sebuah
penurunan harga diri bila kekuatan seksualnya dianggap loyo.
Begitu halnya dengan iklan Kuku Bima Ginseng, “Belum game kok sudah
keluar..?” kasusnya hampir sama, para pria tentu saja malu pergi ke warung hanya takut
dicap tidak perkasa. Banyaknya produk obat yang mengarah pada kekuatan, iklannya
mengarah pada seksualitas dipersepsikan orang sebagai iklan seksualitas. Iklan seperti
apa sebenarnya yang bisa dikategorikan berkonotasi seksual dan semacamnya bahkan
sampai pornografi. Batasan yang jelas masalah iklan berkonotasi seks harus
disosialisasikan kembali kepada para kreator iklan. Tidak bisa disalahkan para kreator
iklan membuat pesan atau tampilan iklan dibuat sedemikian rupa secara sengaja dengan
harapan iklan yang dibuat pasti dipermasalahkan dan pada akhirnya jadi terkenal. Seperti
yang diungkapkan Presdir Artek Advertising, Abdul Manan AR yang membuat iklan
jamu (Kuku Bima Ginseng) pilihan kreatifnya dibuat “nyeleneh” memang disengaja
karena cara pengucapan semacam itu (Belum game kok sudah keluar…?) lebih disenangi
kalangan bawah yang menjadi khalayak sasaran. Berarti konsumen mempersepsikan iklan
jamu sebagai iklan yang mengarah seksualitas memang sudah direncanakan oleh kreator
iklan dan bagian dari strategi kreatif.
Dalam kasus iklan perbandingan batasan-batasan “membandingkan” harus jelas.
Apakah dengan menyebut merek, menyertakan kemasan atau atribut simbolis milik
kompetitor diperbolehkan?. Karena memang sulit dihindari, kondisi persaingan yang sengit.
semakin keras apalagi produknya sama sangat mungkin ide seorang kreator iklan
mengarah kepada “membandingkan” produk yang sama beda mereknya, tentunya produk
yang ditampilkan punya kualitas yang lebih dari produk kompetitornya. Iklan
perbandingan inilah yang kadang membuat persepsi konsumen menangkap hal ini
merupakan persaingan yang tidak sehat saling menampilkan kelemahan produk. Dan
membandingkan juga tidak mudah seperti Force magic yang secara vulgar menghantam
Baygon sang pemimpin pasar kategori produk obat nyamuk semprot. Force Magic
melakukan perbandingan dengan menggunakan data yang akurat untuk dapat
mengalahkan kompetitornya. Tapi apabila data dianggap kurang akurat dan “asal tembak”
apa jadinya penilaian konsumen nanti.
Kalau iklan yang mengarah seksualitas dan perbandingan batasan-batasannya
masih belum jelas, tetapi untuk iklan rokok kebalikannya selain tidak boleh menampilkan
produknya langsung, juga visual orang merokok. Batasan itulah yang membuat iklan
rokok tampil dengan pendekatan simbolisme. Karena berbentuk simbolis pesan yang
disampaikan bisa dipersepsikan macam-macam, seperti A-Mild tampil menarik perhatian
orang dan membuat orang bertanya-tanya penasaran apa maksud iklan rokok A-Mild
yang selalu berubah dan masih sulit dipahami. Kemudian Djarum Super dengan
kekuatan rasa iklannya tampil dengan bahasa lambang gerakan tangan. Ada beberapa
produk rokok lain yang menganggap dengan simbolisasi pesan yang disampaikan belum
tentu tertangkap jelas oleh konsumen, maka muncul iklan rokok lain yang sengaja tampil
lebih sedikit vulgar memperlihatkan bentuk kemasannya dan berdurasi pendek hanya 5
detik, dalam tayangan iklannya seperti rokok Kennedy, Marcopolo, Saritoga,
Bokormas, Sukun dan lain-lain, dipersempitnya durasi dari 30 detik ke 5 detik dengan
tujuan selain biaya tidak terlalu tinggi juga pertimbangan iklan rokok tidak perlu berteletele,
pendek tapi jelas dan persepsi dari pemirsa tidak sulit, langsung pada sasarannya.
Sekali lagi menyamakan persepsi memang sulit, kadang kreator iklan
mengharapkan persepsi iklan yang dibuat tidak terlalu jauh dari persepsi yang ditangkap
target audience-nya. Karena merek dibangun untuk mendapatkan persepsi kualitas yang
baik dari konsumen. Iklan yang memberikan persepsi kualitas dan netral dalam
segmentasi pasar adalah produk sabun Lux. Konsistensi membangun citra merek yang
baik membuat masyarakat dari kalangan menengah bawah sampai keatas tetap memilih
Lux sebagai pilihan sabun mandi mereka. Konsistensi positioning iklannya dengan
mengambil bintang –bintang film terkenal sesuai perkembangan jaman membuat persepsi
dan citra yang baik bagi konsumen. Tampilan iklannya tidak berkonotasi seksualitas,
bintang film terkenal sebagai bintang iklannya bukan bintang film sembarangan (bintang
film panas). Semua dikemas sedemikian rupa guna mendapatkan persepsi dan citra yang
baik di mata konsumen. Tidak salah keyword sabun Lux dari dulu sampai sekarang orang
masih mengingatnya (sabun kecantikan bintang-bintang film) iklannya berubah sesuai
perkembangan jaman, karakternya masih tetap sama.

KEPUSTAKAAN
Alif, Gunawan M. Konsolidasi Merek dan Biro Iklan Global, Majalah Cakram,
Desember 1997/166
Farbey,AD. How to Produce Succesful Advertising, Marketing in Action Series, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 1997
Hadiwasito, Sutedjo. Penyusunan Pesan, Makalah Pendidikan Creative dan Account ,
PPPI Jawa Tengah, 3-4 Mei 1996
Ismiani, Nanik. Menyiasati Rambu-Rambu Etika, Majalah, Cakram Maret 1998/169
Kusumowidagdo, H Wimpi. Perkembangan Industri Periklanan, Program Pendidikan
dan Pelatihan Bidang Usaha Jasa Periklanan, PPPI DKI Jakarta, 21-26 Maret 1994
MGA. Berkat Dukungan Klien , Majalah Cakram, Desember 1997/166
Media Scene 1998/1999. Advertising Expenditures by type of Media 1995 – 1999
Prihmantoro, Heru. Iklan Kondom Selain Jualan, Masih Ada Soal Etika.”Meong” dan
Dahi yang Berkerut, Media Indonesia, 6 April 1999
SE, Rita. Multivitamin Mengapa Diiklankan Obat Kuat, Media Indonesia 10 Desember 1998
Wikom, Asmono. Beralihnya Perokok , Majalah Cakram, Maret 1998/169

Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/22
Sumber: Majalah Cakram Maret 1998/169
Sumber: Majalah Cakram Maret 1998/169
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/



Perencanaan Program Televisi

PERENCANAAN PROGRAM Televisi


Dalam perencanaan penayangan program televisi ada 5 acuan dasar yang sangat penting yaitu:
1. Ide
Ide adalah rencana pesan yang akan disampaikan kepada khalayak penonton dengan maksud dan tujuan tertentu, dalam prosesnya ide biasanya tertuang dalam sebuah naskah siaran. Ide juga harus memperhatikan karakteristik penonton, jenis program (news atau entertainment) dan tujuan pesan.
Ide biasanya merupakan buah pikiran dari perencana program yang biasa disebut produser.

2. Pengisi Acara Siaran (Artis)
Pengisi acara program sangat beragam tergantung jenis programnya. Untuk acara talk show dan program berita terdiri dari pembaca berita (news presenter), bintang tamu/ narasumber (artis, tokoh terkenal, masyarakat biasa). Untuk program program sinema televisi atau sinetro, pengisi acara siaran adalah pemeran tokoh-tokoh dalam cerita tersebut.
Proses produksi biasanya memerlukan waktu yang lama, sehingga komunikasi antara kru dan artis harus baik, hal ini untuk menghindari salah persepsi yang bisa mengakibatkan hilangnya mood saat shooting.

3. Peralatan
Dalam sebuah produksi program televisi, minimal peralatan yang digunakan adalah ;
a. Camera dan tripod
b. Lighting
c. Audio
d. Dekorasi (orade, virtual set dll)
e. Video camera recorder (VCR)

4. Kelompok kerja produksi
Merupakan satuan kerja yang akan menangani kerja produksi secara kolektif sampai hasil karyanya dinyatakan layak tayang. Koordinasi antar kru harus baik sehingga mampu menciptakan "one well coordinate unit".
Kelompok kerja produksi terdiri dari :
a. Kru Produksi / siaran ; kepala siaran, produser, pengarah acara, penulis naskah, pembaca
berita, pewawancara, penyiar.
b. Kru Fasilitas Produksi ; decoration designer, graphic designer, penata rias, propertyman,
tukang kayu, pelukis.
c. Kru Operator Teknik ; technical director, lighting man, cameraman, audio man.
d. Kru Engineering ; pemelihara dan perbaikan, instalator alat komunikasi, telecine, VTR man,
pemancar.

5. Penonton / audience
adalah sasaran setiap acara yang disiarkan, penonton merupakan penentu keberhasilan
program tv.

Sumber :
1. "Produksi Acara Televisi", Darwanto Sastro Subroto, Duta Wacana University Press,
Yogyakarta, 1994 http://kuliahkomunikasi.blogspot.com

Teknis Tayangan Berita Televisi

Penulis : Dede Molkan
Sumber : jurnalistikuinsgd.wordpress.com
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Hal-Hal Teknis dalam Televisi

Hal-Hal Teknis dalam Televisi yang Harus Diperhitungkan:
-Pesan Media Televisi sifatnya sekilas sehingga pesan cepat terlupakan
-Metode paling sederhana di dalam penempatan gambar di televisi adalah:
Metode TRIANGGULASI(menempatkan benda tepat di bagian tengah layar)
Ketika mengambil gambar seseorang, harus diperhitungkan komposisi pada ruang kosong di
atas kepala.Inilah yang disebut: HEAD ROOM (ruang kepala)
Ketika melakukan pengambilan gambar, kamera tidak boleh melewati garis arah gerakan,
disebut: GARIS IMAJINER

Hal-hal yang harus diperhatikan:
- Televisi sifatnya sekilas à pesan cepat terlupakanKonsekuensi: harus membuat kata/kalimat yang mudah diingat
- Pesan Televisi disajikan dalam bentuk audio-visual(suara dan gambar) à “No Picture no News”Konsekuensi: jangan memberikan penjelasan terhadap gambar.
- Gambar dalam televisi sangat terbatasKonsekuensi:kamera harus merekam apa yang ingin diketahui pemirsa
- Televisi lebih mengutamakan gambar (visual)Konsekuensi:- mendahulukan ada gambarnya, ketimbang artistik gambar.
- pemirsa lebih tertarik pada gambar dari pada kata-kata.

KEMASAN BERITA TELEVISI:
1. BERITA COPY
- Berita Copy, merupakan cara paling dasar dan sederhanadalam menyampaikan berita di televisi
- Berita Copy dibuat, jika peristiwanya sangat penting
- Bisa dibuat dengan cepat, karena tidak perlu persiapanyang terlalu banyak.
- Tidak ada gambar, karena berita baru saja terjadi, bahkanmungkin masih berlangsung.
- Bisa dilakukan dengan cara “phono” (penyiar meneleponlangsung reporter yang berada di lokasi kejadian)
- Jika memiliki perangkat SNG, bisa ditayangkan langsungdari lokasi kejadian à on the spot
- Presenter tampil di layar, membacakan berita copysecara utuh dari awal sampai akhir
- Lamanya berita copy antara 30-45 detik

2. READERS / GRAFIX
- Readers/Grafix, merupakan cara paling dasar berikutnya
- Format ini digunakan jika sebuah peristiwa, baru sajaterjadi dan reporter belum memiliki akses untuk merekamgambar kejadian ke dalam kaset video.
- Presenter hanya tampil membacakan intro, diikuti dengantayangan grafis (data, angka, peta lokasi, still foto, dll.)
- Presenter masih terus membacakan berita, ketika gambaratau grafis tersebut ditayangkan.- akhir dari berita readers/grafix, bisa di wajah anchoratau di gambar/grafix yang ditayangkan- Lamanya berita Readers/Grafix: 15-30 detik.

3. CLIPS ONLY
- Intro dibacakan Anchor, disusul dengan Sync Narasumber
- Berita Clips Only, akan dimunculkan jika Narasumbermerupakan orang yang sangat penting
- Atau jika sync dari narasumber “menghebohkan”
- Intro yang dibacakan Anchor maksimum 3 kalimat
- Lamanya berita Clips Only: 40-45 detik
- Intro memuat: Topline, Background dan Context
- Topline: kalimat pertama dari sebuah intro- Background: latar belakang fakta, mengapa peristiwa terjadi
- Context: kejadian lain yang terkait dengan peristiwa itu

4. OoV (Out of Vision)
- Berita hanya dibacakan Anchor tanpa Voice Over (VO)
- Ketika membacakan intro, Anchor muncul di layar,disusul dengan gambar tanpa VO.
- Ketika gambar sedang ditayangkan, Anchor masih tetapmembacakan berita OoV.
- Ketika gambar selesai, Anchor masih membacakan berita
- Alasan dibuatnya berita OoV:
- tidak cukup waktu untuk dibuat jadi berita paket
- tidak cukup kuat untuk dibuat jadi berita paket
- Lamanya berita OoV: 45 detik

5. BERITA PAKET (PACKAGE)
- Unsur penting yang harus ada dalam berita paket:
a. Intro à dibacakan oleh Anchor
b. Sequences à gambar-gambar dari peristiwa berita
c. Sync à suara langsung dari narasumber
d. Voice Over (VO) à narasi berita di-dubbing oleh Reporter
e. Stand-Up à reporter tampil di layar mengakhiri berita
f. Natural Sound (natsound) à suara alami di lokasi peristiwa

- Kata-kata dalam VO, tidak boleh sama dengan sync, jika sama disebut redundant.
- Ketika Stand-Up, akan muncul: identitas Reporter,identitas Stasiun Televisi dan lokasi tempat kejadian
- Stand-Up merupakan “Standard Out Cue” (SoC)
- SOC : tanda akhir dari sebuah berita à disebut juga Pay 0ffKalimat SoC
misalnya:“Ida Bagus Oka, Metro TV melaporkan dari Denpasar Bali…”
- Lamanya Berita Paket: 1 menit 45 detik (maksimum)

Struktur Berita Paket:
Intro dibacakan Anchor ……………………. 10 detik
Voice Over dubbing oleh Reporter .……… 10 detik

Bridge to Sync-1
Sync-1 (korban dari kejadian) ………………… 30 detik
Voice Over dubbing oleh Reporter .……… 10 detik

Bridge to Sync-2
Sync-2 (pihak bertanggung jawab) …………… 30 detik
Sequence tanpa V/O……………………………. 8 detik
Pay off/SOC/VO Penutup ……………..…… 15 detik

Stand-Up ReporterTotal berita paket……………….1.45 menit

Dalam sebuah Berita Paket (package) terdapat:
1. Intro
2. Angle
3. Sequence
4. Voice Over
5. Vox Pop
6. Stand-Up
7. Grafix
8. Nat Sound / Atmosfer

- Intro = kalimat pertama dari berita
- Angle = sisi yang akan diangkat dalam pemberitaan
- Sequence = gambar-gambar yang akan diambil oleh kameramen
- Voice Over = narasi yang akan mengisi tayangan sequence
- Vox Pop = pendapat singkat dari orang-orang tentang peristiwa
- Stand-Up = Reporter berbicara ke Pemirsa menghadap kamera
- Grafix = data-data diluar sequence: gambar, foto, sketsa, peta lokasi, dll.
- Nat Sound = atmosfher, suara alami yang terekam di lokasi kejadian

Jika kita bruntung semua unsur di atas bisa didapat di satu lokasi kejadian Contohnya pada peristiwa Kebakaran atau Penggusuran.

ALUR PERJALANAN BERITA SEBELUM DITAYANGKAN
 Sekembalinya dari lapangan, Reporter harus segera melaporkepada Produser, mengenai berita yang baru saja diliputnya.
 Jika Produser setuju berita itu dibuat menjadi “berita paket”,maka Reporter langsung membuat intro berita.
 Setelah intro selesai, Reporter melakukan preview dan logging(mencatat gambar-gambar yang akan dipakai dan memilih sync)
 Selanjutnya Reporter menulis naskah berita (narasi untuk VO),disesuaikan dengan gambar dan sync yang dipilih Reporter
 Setelah naskah berita (narasi) selesai, Reporter melakukanperekaman suara (dubbing)
 inilah yang disebut voice over
 Terakhir mengedit gambar dan menggabungkannya dengannarasi (mixing), hingga menjadi hasil edit yang siap untukditayangkan, disebut final cut

Teknik Live Reporting

Daya tarik televisi sebagai media sebagian sangat tergantung pada kemampuannya untuk menayangkan sebuah event secara langsung. Menariknya siaran live, tidak hanya karena pada unsur partisipasi dan kehadiran stasiun tersebut pada event yang dimaksud, tapi pada asumsi yang dimunculkan, bahwa apa yang kita saksikan tak termediasi, tak terkontaminasi dan akurat. Oleh karena itu kemampuan Live Report sangat penting. Live Report menggabungkan konsep program berita dan reality show.
Dibawah ini beberapa tips untuk menghasilkan Live Report yang baik
1. Pre – Reporting Preparation
- Check and Re-check, kebenaran even/topic yang menjadi subyek laporan. Mencakup
(waktu, tempat dan nara sumber)
- Lakukan riset bahan melalui telpon, internet ataupun media lainnya.
- Persiapan personal dan teknis.
2. On Location
- Kumpulkan semua informasi dan data awal yang didapat dari lapangan
- Get ambiance of the venue
- Pastikan anda tidak menghadapi kendala teknis ketika ”on air”.
- Bekerjalah dengan efektif dan efesien, ” time is everything ” here.
3. 30 detik sebelum On air
- Pastikan anda merasa nyaman dengan suasana tempat anda akan melaporkan dan anda
nyaman dengan diri anda sendiri
- Anda memiliki semua materi siaran dan menguasainya
- Anda percaya diri dengan penampilan anda
- Fokuskan pikiran anda pada materi laporan, bukan pada yang lain
- Menghafal atau pointers
- Use effective and appropriate non verbal language ( mimic, gesture, head movement and off
course … smile)
- Jangan pernah lupa memberikan atribusi untuk data yang anda kutip.

sumber : pojokspy.blogspot.com

Feature

Feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Menjadi seorang penulis feature harus memiliki ketajaman dalam memandang dan menghayati suatu peristiwa. Serta mampu menonjolkan suatu hal yang meski umum namun belum terungkap seutuhnya yaitu sisi humanisme.

BERDASARKAN TIPENYA FEATURE DAPAT DIBEDAKAN MENJADI
1. Feature Human Interest
Langsung menyentuh keharuan, kegembiraan, kejengkelan, simpati). Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, lika-liku kehidupan seorang guru atau dokter di daerah terpencil, atau kisah seorang menimbulkan kejengkelan (Contoh tayangannya : Program kejamnya Dunia, Investigasi, Jendela, Delik, derap Hukum, dll).

2. Feature Pribadi-Pribadi Menarik Atau Feature Biografi
Misalnya riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi atau seorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi (Contoh tayangannya : Program Silet, dll).

3. Feature Perjalanan
Misalnya kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektifitas menonjol, karena biasanya penulisannya yang terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan itu mempergunakan “Aku”, “Saya”, atau “Kami” (sudut pandang ‘Point Of View’ orang pertama) (Contoh tayangannya : Program Menantang batas, Koper & Ransel, dll).

4. Feature Sejarah
Yaitu tulisan tentang peristiwa masa lalu, misalnya peristiwa proklamasi kemerdekaan, atau peristiwa keagamaan, dengan memunculkan “tafsir baru” sehingga tetap terasa aktual untuk masa kini. (Contoh tayangannya : Program Silet, Program Khusus, dll).

5. Feature Petunjuk Praktis (TIPS)Yaitu mengajar keahlian, how to do it. Misalnya tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah, dan sebagainya (contoh tayangan : Program Sisi Lain, Good Morning, dll).

STRUKTUR TULISAN
Menulis Feature tidak ada aturan khusus. Namun demikian, dalam menulis feature, usahakan apa yang ditulis itu tidak monoton. Data yang diungkapkan kuat, detail, fakta, harus ada dan benar. Sebenarnya menulis feature lebih tergantung pada kekuatan menulis atau ketrampilan menulis.

JENIS-JENIS FEATURE
Adapun jenis-jenis feature di antaranya :

1. Feature Berita
Yang lebih banyak mengandung unsur berita berhubungan dengan peristiwa aktual yang menarik perhatian khalayak. Biasanya merupakan pengembangan dari sebuah straight news. (Contoh tayangan : Program Investigasi, Delik, Sigi 30 menit, dll).

2. Feature Artikel
Yang lebih cenderung segi sastra. Biasanya dikembangkan dari sebuah berita yang tidak aktual lagi atau berkurangnya aktualitasnya. Misalnya, tulisan mengenai suatu keadaan atau kejadian, seseorang suatu hal, suatu pemikiran, tentang ilmu pengetahuan, dan lain-lain yang dikemukakan sebagai laporan (informasi) yang dikemas secara ringan dan menghibur. (contoh tayangan : Program Jakarta Underground (atmosphere) Jejak Malam, Fenomena dll).

sumber: pojokspy.blogspot.com

Video Klip

VIDEO KLIP adalah kumpulan potongan-potongan visual yang dirangkai dengan atau tanpa efek-efek tertentu dan disesuaikan berdasarkan ketukan-ketukan pada irama lagu, nada, lirik, instrumennya dan penampilan band, kelompok musik untuk mengenalkan dan memasarkan produk (lagu) agar masayarakan dapat mengenal yang selanjutnya membeli kaset, CD, DVD.
Memberikan imbas bagi seluruh stasiun TV untuk mendapatkan pemasukan dari iklan yang membeli tayangannya baik dalam bentuk program musik atau sebagai iklan itu sendiri, bahkan juga memberikan kesempatan bagi seluruh insan muda yang kreatif baik sebagai sutradara atau crew kreatif di dalamnya.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MEMBUAT VIDEO KLIP
1. SIMBOL
Tidak perlu adanya keselarasan antara gambar dan lirik, bahkan seringkali tidak
ada hubungan antar keduanya.
2. VERBAL
Gaya desain penggambaran akan disesuaikan dengan isi lirik (gambar dan lirik saling
menyatu).
UNSUR VIDEO KLIP
1. Bahasa Ritme (irama)
Pelajari birama dulu apakah slow beat, fast beat, middle beat dan coba rasakan
dengan ketukan-ketukan kaki untuk memperoleh tempo yang pas.
2. Bahasa Musikalisasi (instrument musik)
Pembuat Video Klip atau biasa disebut VIDEO CLIPPER haruslah mempunyai
sebuah wawasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan musik baik itu jenis
musik, alat musik, bahkan juga profil band.
3. Bahasa Nada
Perhatikan aransemen nada, diskusikan dengan piñata musiknya tentang aransemen
yang dibuat. Selanjutnya rasakan dengan hati nada-nada tersebut.
4. Bahasa Lirik
Seorang VIDEO CLIPPER dituntut mempunyai sebuah imajinasi visual terhadap
lirik dan lagu walaupun tidaklah harus secara verbal.
Jika ada lirik yang mengungkapkan kata ‘CINTA’ maka sebagai simbolisasi tidak
harus dengan bunga, warna pink, atau hati. Bisa saja berupa kertas (surat), sepatu
butut (cinta tanpa mengenal status social), air (cinta yang mengalir). Atau bahkan
bias dengan tarian kontemporer.
5. Bahasa Performance (penampilan)
Selami karakter pemusik, penyanyi, pemain band baik dari latar belakang
bermusiknya, hingga ke profil fisiknya (hidung, mata, style, fashion dan gerak tubuh).
TEKNIS SEDERHANA PEMBUATAN VIDEO KLIP
1. PENENTUAN LOKASI SYUTING
INDOOR
Indoor on place (café, rumah, gedung pekantoran)
Kebutuhan akan property sedikit lebih simple karena kebutuhan property seperti seperti meja, kursi, lemari, lampu hias, buku, dan sebagainya sudah tersedia. Penambahan property cenderung untuk melengkapi kebutuhan story board.
Indoor Studio
Harus mampu menata, membuat bahkan membangun set design sesuai denga kebutuhan story board. Hal ini menjadikan kemampuan pengembangan estetika seni mendapat peranan besar, karena tudgas seorang piñata artistic haruslah menciptakan bukan memanfaatkan set yang sudah ada.

OUTDOOR
Cenderung memanfaatkan segala property dan nuansa alam yang sudah ada dan cenderung yang lebih banyak diadopsi adalah natural keunikan alam atau lingkungannya (di pantai, pasar, gunung, dsb)

2. STORY BOARD
Dalam memproduksi video klip hal pertama yang harus dituangkan dari konsep adalah STORY BOARD, karena dari story board seorang sutradara video klip dapat mengungkapkan imajinasinya melalui gambar-gambar konsep visual yang bercerita.
Dari story board lah seorang klipper akan lebih mudah berkonsentrasi dalam hal-hal yang bersifat teknis visual, penataan cahaya, penataan artistic, camera angle, ataupun performance sang artis.

3. PERALATAN SYUTING/ PRODUKSI
Peralatan yang dibutuhkan sangat ditentuntukan oleh klip seperti apa yang akan dibikin, hanya saja pasti ada alat utama yang harus ada terutama :
CAMERA dengan kelengkapan seperti tripod, dolly, dolly track, crane.
LIGHTING dengan kelengkapan stang, filter, dsb

4. MEMPERKUAT CREW
Pastikan anda bersama crew dan tim yang kompak dengan dipimpin seorang sutradara dalam pelaksanaan produksinya. Dalam penentuan crew tidak ada patokan berapa jumlahnya. Semuanya sangat tergantung dari produksi itu sendiri seberapa banyak ia membutuhkan tenaga.

5. PENGAMBILAN GAMBARSetiap gambar yang diambil tentunya berdasarkan story board yang telah dibuat. Shot-shot untuk video klip sebenarnya tidak ada aturan khusus secara teknis tetapi dalam instruksi dan istilah-istilah yang dipakai tetap menggunakan aturan secara umum. Misal : Close Up, Medium shot, Cut, Cue, Running, dsb. Hal ini tentunya adalah untuk memudahkan dalam hal pelaksanaan teknis saat pra produksi, produksi dan editing.
6. EDITING
Pada era yang serba digital ini, editing mempunyai peranan yang cukup penting dalam proses akhir produksi sebuah video klip. Bahkan editing juga dapat mengatasi segala keterbatasan alat pada saat produksi untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan story board.
Namun dengan hebatnya teknologi editing yang ada, sebagai seorang video klipper tetap dituntut harus mampu memperoleh produksi semaksimal mungkin tanpa tergantung dari editing.
Selamat berkarya..

sumber: pojokspy.blogspot.com

Penyutradaraan Dokumenter

Menempatkan KAMERA dalam menyampaikan IDE


GOAL UTAMA

- Mengarahkan penonton untuk mencapai sebuah kesatuan ide, memahami pesan, secara persuasif.
- Mempersiapkan sebuah hasil teknis perekaman gambar dan suara yang baik untuk tahap penyelesaian film (Pasca Produksi).


Menjadikan manusia sebagai SUBYEK bukan OBYEK

MENAMPILKAN SUBYEK

- Menempatkan kamera dalam menunjukkan apa yang dilakukan Subyek dalam menyampaikan gagasan.
- Melakukan observasi visual yang mendalam terhadap subyek
- Membuat subyek mengungkapkan PIKIRAN (verbal) yang mendasari atau menjelaskan apa yang dilakukannya
- Pengadeganan ulang terhadap apa yang diceritakannya, mengarahkan subyek dan menempatkan kamera seperti dalam pendekatan observasi.

OBSERVASI
Menempatkan kamera berada dalam jarak aman dan jarak dekat dengan subyek.
Menciptakan hubungan sehingga subyek nyaman terhadap kamera.


MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN UNSUR SUARA

- Sumber informasi audio yang membentuk visual menjadi utuh. Mengarahkan gagasan. Suara hasil wawancara, rekaman pembicaraan subyek, musik, suara musik dan suara lingkungan.
- Menghindarkan sumber suara ganda dalam proses perekaman yang melibatkan suara, seperti dalam wawancara dan lainnya.
- Merekam suara dari adegan agar dapat digunakan dalam proses penyelesaian.


Prinsip dasar dalam melakukan wawancara

1. Harus selalu kontak mata antara si pewawancara dengan yang diwawancarai.
2. Si pewawancara harus penuh ketekunan mendengarkan semua jawaban narasumber dengan sesekali memberikan respon visual (mengangguk, menggeleng, atau yang lainnya) sehingga nampak terjalin komunikasi dengan narasumber.
3. Jangan memberikan respon suara yang akan mengganggu konsentrasi narasumber dan masuk dalam rekaman sehingga nantinya menyulitkan penyuntingan (editing).

4. Bila ingin hasil yang natural, maka pertama-tama si pewawancara dahulu yang harus nampak natural ketika melemparkan pertanyaan, terutama jangan sekali-kali menggunakan bahasa formal sehingga nampak aneh dan membuat jarak dengan narasumber.
5. Coba bangun suasana layaknya dua orang sedang ngobrol santai. Bisa dimulai sejak sebelum rekaman dimulai, si pewawancara sudah melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan narasumber. Yakinkan narasumber jangan takut salah dan bisa diulang dengan mudah.
6. Pertanyaan yang diajukan harus jelas dan singkat, sehingga narasumber tidak salah menanggapi.

7. Jangan pernah membuat pertanyaan yang sifatnya mengkonfirmasi saja dan membuat jawabannya sangat pendek dan tidak memberikan informasi apa-apa.
8. Pertanyaannya harus membuat narasumber bercerita, maka bunyi pertanyaannya akan banyak di dominasi oleh “Coba ceritakan pengalamanmu....?” “Bagaimana...? Mengapa? Apa yang kamu rasakan? Dan lain-lain.
9. Untuk menjamin wawancara dengan narasumber terekam dengan baik, pastikan suaranya juga terdengar jelas di kamera. Agar suara terdengar jelas, letak kamera tidak boleh terlalu jauh dari sumber suara. Baik sekali kalau ada microphone eksternal yang bisa diletakkan dekat dengan narasumber.

MEMBUAT B-ROLL

Menempatkan kamera pada situasi di luar subyek yang mendukung gagasan subyek, dan memperkuat gagasan berkait dengan apa yang diceritakannya.
Contoh :
Situasi situasi di sekitar subyek. Foto foto dan gambar gambar pendukung
Rekaman rekaman yang menarik dari lingkungan yang menciptakan suasana : Musik, situasi komikal dan kontras.


GAYA dalam PENYUTRADARAAN

1. Observasional
2. Free handheld kamera
3. Pendekatan jurnalistik. Hand Held, Teleshot observasion


KAMERA SEBAGAI PENA

Dalam film yang baik kamera menjadi kuas yang di-eksplorasi dalam berbagai dimensinya. Tebal dan tipis, halus dan kasar.
Menyampaikan gagasan juga memiliki tujuan untuk MENYENTUH perasaan penontonnya

PROSES PASCA PRODUKSI
Melakukan proses re-konstruksi dari semua materi visual dalam membentuk ide utama dan menyampaikan pesan /gagasan.
Mengarahkan konstruksi unsur suara. Insert dari bahan bahan wawancara, sumber suara B-roll, musik dan lain lain.

sumber: pojokspy.blogspot.com

Riset Dalam Produksi Dokumenter

Ide film bukan wahyu yang datang begitu saja, tapi merupakan kumulatif dari serangkaian pengamatan dan pengalaman yang mengendap dalam ingatan lalu muncul kembali sebagai sebuah ide. Secara tidak sadar, proses penemuan ide adalah bagian dari proses riset yang sudah kita lakukan ketika kita mengalami ataupun mengamati sebuah gejala.
Rangkaian kegiatan sistematis yang dilakukan untuk memahami sebuah fenomena, baik fenomena alam maupun fenomena sosial-budaya.

Fungsi Riset Dalam Produksi Dokumenter
1. Proses Kreatif
Merumuskan ide film, film statement, dan alur bertutur film. Termasuk di dalamnya
membangun raport dengan subyek dan menggali elemen audio visual yang akan menjadi
bagian dari film.
2. Manajemen Produksi
Mengatur jadwal, perijinan, akses, budgeting, dsb.

Pengumpulan Data di Lapangan
1. Observasi (pengamatan, partisipasi)
2. Wawancara
3. Audio Visual (merekam)

Menuliskan Kembali Hasil Riset
1. Mengkategorisasi data
2. Mengidentifikasi data-data penting
3. Mencari hubungan sebab akibat
4. Mengaitkan fenomena spesifik dengan konteks yang lebih besar

Tips-tips melakukan penelitian lapangan
1. Stay alerted (peka terhadap berbagai hal)
2. Bertanya
3. Mencatat
4. Merekam secara visual

sumber: pojokspy.blogspot.com

Elemen Programming

Ada empat elemen dalam mengatur strategi penjadwalan atau programming televisi:
1. Programming:
Menganalisa angka peringkat rating penonton berdasarkan SES (Social Economy Status), segmentasi, jam tayang, pola penonton, genre dan juga trend.
2. Production:
Mengkaji sisi produksi dari setiap acara mulai dari Format (drama, non drama, news/sport), Story Treatment, Production Cast (artis, bintang,band, dll), directing, production design (artistik,grafik, shot,editing, wardrobe) dsb.
3. Marketing:
Membahas strategi marketing dan sales untuk mendapatkan profit. Topik antara lain tentang harga spot iklan, build in product, pre-sales, brand awareness, brand differentiation, target konsumen, blocking time, packaging price, product values, dll
4. Purchasing & Distribution:
Disinilah perhitungan harga produksi, pembelian program/film, distributors, suppliers, dll, yang disesuaikan dengan kemampuan daya beli stasiun televisi. Dikaji juga Programming Value per detik dari biaya rata2x operasional stasiun tv setiap detik.Jadi,bisa dibayangkan kan? kalau penempatan jam tayang sinetron atau film sering dianggap tidak tepat, itu menurut versi publik/penonton.

Tapi kalau menurut versi stasiun tv pasti sudah melewati tahap elemen diatas, yang dianggap merupakan hasil analisa penonton juga. Memang kusut, tapi begitulah media kapitalis televisi. Sebagai input, di Amerika saja sampai ada gerakan moral yang disebut "You own your tv".

Gerakan ini mengajak publik untuk mengontrol tontonan televisi karena pesawat tv milik kita bukan milik stasiun/kabel tv. Jadi, mengapa harus bergantung pada mereka? Merekalah yang harus mendengarkan kemauan publik.
Dan ini bukanlah kesalahan lembaga riset AC Nielsen. Karena AC Nielsen hanya mengeluarkan hasil peringkat rating berdasarkan tontonan yang disajikan oleh para programmer televisi... begitu isi gerakan ini.

sumber: pojokspy.blogspot.com

Show Director/Program Director

Di Amerika bahkan muncul berbagai istilah dengan Job Description yang lebih spesifik seperti Stage Director, Floor Director, Floor Manager, Program Director, Event Coordinator, Event Manager,Festival Organizer, Network Director dll.
Istilah ini bebas dipakai oleh institusi mana saja (broadcast dan non broadcast) sesuai dengan keperluan, fungsi dan tujuan masing2x. Yang menarik walau istilah ini banyak yang membingungkan tapi job descriptionnya sangat jelas dan tidak bertabrakan satu dengan lainnya.Saya mencoba mencari jawaban tentang ini dari berbagai referensi buku seperti The Film Industry (by Fred Yager & Jan Yager/checkmark book), Basic Studio Directing (By Rod Fairweather/ Focal Press)dan This Business of Music Marketing & Promotion (by Lathrop) tapi tidak ada definisi yang baku. Setiap events mempunyai job desc yang berbeda.
Jadi, untuk lebih jelasnya, saya akan mencoba menuliskan perbedaan berdasarkan fungsi dan kob descnya, bukan dari definisinya.Show DirectorBertugas menjadi Sutradara Pentas atau Pengarah Lakon Panggung atau Pengarah Pagelaran. Disini, Show Director bertanggungjawab pada kemasan pagelaran diatas panggung mulai dari Tata Artistik Panggung, Sound, Rundown Pentas Acara, Lighting Direction hingga ke urusan Stage Management lainnya seperti Wardrobe, Make Up, Props, dan lainnya.
Show Director tidak bertanggung- jawab pada liputan tayangan Broadcast namun wajib berkompromi dengan Program Director dari Stasiun Televisi untuk mendapatkan Blocking yang Pas dan bagus, baik untuk Penonton Panggung maupun untuk Penonton Televisi.... Namun istilah ini seringkali dirancukan dengan Art Director. Misalnya, Jay Subijakto itu dikenal sebagai Art Director konser2xnya Erwin Gutawa. Disini Jay mempunyai kapasitas lebih memikirkan dimensi2x artistik dari pagelaran dan sebenarnya, Jay sudah merangkum pekerjaan Show Director. Namun, Jay justru membagi pekerjaan stage management dengan Stage Manager... Stage ManagerBertugas membantu Show Director dalam mengkoordinasikan seluruh aktifitas dibalik panggung. Stage Manager ini mempunyai kewenangan penuh untuk mengatur jalannya konser/acara dari balik panggung, termasuk menyiapkan seluruh pengisi acara untuk siap tampil.
Kalau Show Director mengarahkan dari depan panggung dan mensupervisi Lighting dan Audio, Stage manager justru berada dibalik panggung. Stage manager tidak bertanggung jawab sama sekali dengan liputan Broadcast dan on-air. TV Director/Program DirectorDi Amerika dikenal sebagai Program Director yang dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mampu menyutradarai produksi Drama atau Non Drama dengan Single atau Multi Camera untuk studio maupun outdoor. Bila program acara diproduksi oleh Stasiun Televisi maupun Production House, seorang Program Director merangkap sebagai Show Director dan bertanggung jawab pada STAGE dan ON-AIR. Inilah yang dilakukan oleh para PD2x di Indosiar dan ANTV.
Sedangkan di RCTI ataupun SCTV, PD hanya bertanggung jawab pada ON-AIR saja, sedangkan content untuk STAGE dipegang oleh Produser ataupun Production Assistant. Nah, istilah Program Director ini ternyata diinterpretasikan secara SALAH orang para senior kita di TVRI. Program Director diterjemahkan bebas menjadi Pengarah Acara! padahal seharus tetap diinterpretasikan menjadi Sutradara Acara atau Sutradara Program. Ini memang kacau, sementara istilah Floor Manager tidak diistilahkan menjadi Manajer Lantai atau Manajer Ubin, tapi tetap memakai istilah Floor Manager..... Lainnya, lagi kalau di Amerika dikenal TV Director ini artinya Sutradara TV tapi kalau di Indonesia dipakai TV Director maka diartikan menjadi Direktur TV

sumber: pojokspy.blogspot.com
Stasiun TV (Indonesia)
Stasiun televisi di Indonesia ada sejak berdirinya TVRI pada 1962 silam . Selama 27 tahun, Indonesia hanya bisa menyaksikan satu saluran saja , Namun pada tahun 1989 , Pemerintah akhirnya mengizinkan RCTI sebagai stasiun televisi swasta pertama di Indonesia , meski hanya penduduk yang mempunyai Parabola dan Dekoderlah yang dapat menyaksikan RCTI tetapi akhirnya dibuka untuk masyarakat mulai Tanggal 21 Maret 1992 di Bandung.
















Berikut adalah daftar stasiun televisi di Indonesia.

Televisi nasional
Cakrawala Andalas Televisi (antv)
Global TV
Indosiar Visual Mandiri (Indosiar)
tvOne
MetroTV
Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI)
Surya Citra Televisi (SCTV)
Televisi Pendidikan Indonesia (TPI)
Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV)
Trans 7
Televisi Republik Indonesia (TVRI)

Televisi khusus
Televisi Edukasi (TV E)
Swara
QTV

Televisi lokal
Daftar TV Lokal Indonesia

Televisi berbayar
Astro Nusantara
B-TV
HomeCable
IM2 PayTV
Indovision
M2V Mobile TV
Telkomvision

Lihat pula
Daftar stasiun radio di Indonesia

Pranala luar
(id) Stasiun TV di Indonesia


Situs Televisi nasional
(id) Situs web antv
(id) Situs web Global TV
(id) Situs web Indosiar
(id) Situs web MetroTV
(id) Situs web RCTI
(id) Situs web SCTV
(id) Situs web TPI
(id) Situs web Trans TV
(id) Situs web Trans 7
(id) Situs web tvOne
(id) Situs web TVRI


Situs Televisi khusus
(id) Situs web SWARA Channel
(id) Situs web Qtv Network


Situs Televisi berbayar
(id) Situs web Astro Nusantara
(id) Situs web HomeCable
(id) Situs web IM2 Pay TV
(id) Situs web Indovision
(id) Situs web M2V Mobile TV
(id) Situs web Telkomvision


Televisi lokal di Indonesia

Aceh TV · Agropolitan TV · Ambon TV · Amuntai TV · ATV · Bali TV · Bandung TV · Banjar TV · Banten TV · Batam TV · Batu TV · Bengkulu TV · BiTV · BMS TV · Bogor TV · Borneo TV · Bukittinggi TV · Bunaken TV · Cahaya TV · Carita TV · Cakra TV · CB Channel · CT Channel · Da Ai TV · Deli TV · Depok TV · Dhamma TV · Dhoho TV · Duta TV · Elshinta TV · Eskape TV · Fajar TV · Fativi · Ganesha TV · Gemilang TV · Gajayana TV · GO TV · GNTV · Gorontalo TV · GTV · HKTV · IMTV · INTV · Jabar TV · JakTV · Jatilihur TV · Jogja TV · JTV · Kandangan TV · Karesidenan TV · KCTV · Kendari TV · KSTV TV · L TV · Logis TV · Lombok TV · Mahameru TV · Makassar TV · Malang TV · Megaswara TV · Metro Papua TV · MGTV · Minang TV · MQTV · Murakarta TV · nTV · O Channel · Pacific TV · Padang TV · Padjadjaran TV · Palembang TV · Pal TV · PKTV · Plaza TV · Pro TV · PKTV · Rantau TV · Ratih TV · RBTV · Riau TV · Riauchannel · SAM TV · Semarang TV · Selidah TV · Siger TV · SJTV · Sky TV · Spacetoon (TV Anak) · Sri Junjungan TV · Sriwijaya TV · SSTV · STV Bandung · STV Batam · Suma TV · Suroboyo TV · TA TV · Tabalong TV · Tarakan TV · Televisi Tegal · Televisi Manado · Terang Abadi TV · Tugu TV · TPKS · TVB · TV Borobudur · TVKU · TV Majta · TVT · TV5d · Universitas Gunadarma TV · VTV

-------------------------------------------------------------------
Sumber lengkap:
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Tips Menjadi Reporter

Tips Menjadi Reporter
Siapa Itu Reporter?
Berdasar arti kata yang berasal dari bahasa asing, “pembuat laporan”.

Fungsi Reporter
Bayangkan musafir, yang mengembara ke mana-mana, kemudian menyampaikan cerita yang menarik hasil pengembaraannya kepada orang lain yang ingin mendengarkan ceritanya.

Apa Saja Yang Harus Diperhatikan?

1. Tanggung jawab (kebenaran, urgensi dan relevansi terhadap situasi)
2. Menulis efisien (pendek, tapi bermutu)
3. Bahasa gambar (tiap naskah, apa gambarnya?)
4. 2 in 1 dengan cameraman
5. Pengetahuan luas

Sudahkah Anda Meningkatkan Pengetahuan?
1. Apakah kemarin membaca buku? Buku apa? Berapa bab atau halaman?
2. Apakah kemarin membaca koran? Berapa koran?
3. Apakah sudah menulis kemarin? Tentang apa dan berapa banyak?
4. Nonton film? Ikut seminar atau ceramah? Dapat input apa?

Modal Lain?
1. Jaringan/ persahabatan
2. Rasa ingin tahu yang besar
3. Perpustakaan sendiri. Why not?
4. Bahasa asing
5. Internet and technology minded
6. Intuisi
7. Berani tampil

Yang Dibutuhkan Industri?
Reporter yang kritis, kreatif dan penuh vitalitas untuk memperoleh berita yang baru dan bermakna bagi banyak orang.
Semoga bermanfaat

sumber: pojokspy.blogspot.com

Video Transfer / Streaming

Penulis : Yusrizal
Sumber : kamerawanjurnalisindonesia.org

Video transfer
Ada dua cara melakukan tranver file vdeo melalui internet provider client, pertama melalui ftp dan yang kedua melaui server,

1. FTP
FTP adalah file transfer protocol yang memungkinkan kita mengirim data dalam kapasitas besar diantara dua computer.

Untuk melakukan transfer dengan cara ini pertama teman teman harus memiliki FTP client dan server (bisa di download secara gratis) dengan kedua client dan server ini memungkinkan kita berhubungan secara langsung antara computer di lapagan dengan computer di kantor dalam window terdapat fungsi yang sama yang di sebut remote desktop sharing dan remote access server

Pertama pilih file yang hendak di kirim – dan tinggal copy paste dari client ke server …
Permasalahannya adalah kapasitas file yang terlalu besar, nah ada sedikit tips t mempermudah teman pengiriman gambar dan tidak menghabiskan waktu berjam jam

1 down convert video file file ingest / import biasanya file asli saat kita import memiliki codec avi, mpeg-4, mpeg2, dv-pal atau wmv video codec ( tergantung camera) pada umumnya codec file ini memiliki kapasitas file yang sangat besar untuk memperkecil file ini kita bisa mengconvert file ini kedlaam bentuk xvid, divx, flc atau adopt flash.

dari pengalaman saya div x dapat mengkompress file sangat baik, unutk durasi 5 menit kita hanya memiliki file sebesar 75 mega sedang file asli hapir mencapai 2 Gb

Apa bila melakukan pengiriman melalui dialup modem pilih hsupa modem jangan hsdpa ( huawei memiliki dua pilihan hsupa atau hsdpa) hsupa memiliki kemampuan upload hingga 7,2 Mb persecon

Dengan system konversi dan hsupa modem ini saya pernah mencoba hanya di butuhkan waktu 7 menit untuk mengirim gambar dengan durasi 6 menit .

Permaslahannya kemudian adalah apakah file ini layak tayang atau tidak? Nah saat di kantor file ini kit kembalikan ke bentuk semula dengan mereconvert file yang kita kirim kalo dilapangan kita melakukan prose decoder maka di kantor harus di lalukan proses uncoder untuk mengembalikan kualitas gambar.

Sekedar info saat ini sangat banyak di jual modem hsupa dengan harga sangat terjangkau, bahkan beberapa handphone set juga sudah memiliki fasilitas ini, jadi kita bisa mengirim gambar melalu hp juga.

BGAN (broadband global area network adalah jaringan internet dengan menggunakan satelit yang di prakarsai oleh imarsat/ Bgan sitem sendiri terbagi 2 yaitu REGIONAl bgan dan GLOBAL access

secara garis besar bgun bisa juga dikatakan kumunikasi dengan menggunakan satelit/ penggunaan bgan secara dasar adalah unutk komunikasi suara dan transfer data, jadi bgan hanya memberi access internet sedangkan untuk proses lainnya di butuhkan software penunjang pengalaman pelatihan, bgan hanya mampu mentranfer data dengan kecepatan maksimal 429 kbs dengan lokasi di gedung indosat jakarta barat/ kecepatan ini jauh lebih rendah dengan kecepatan broadband yang mampu mencapai kecepatan hingga 7,2 MBs

sementara sistem transfer sendiri terserah kita menggunakan apa

sementara LIVEWIRE adalah nama software yang di gunakan unutk melakukan streaming video dan audio/ livewire ini juga dapat berfungsi sebgai internet tv searching

secara garis besar software ini mampu melakukan pencarian video dan audio melalui streaming livewire ini sendiri saat ini masih menggunakan format hyperlink .

unutk saat ini mungkin stream box lebih ungul dibanding livewire/ karena stream box memungkina kita untuk siaran life dengan badwith sangat kecil/ menurut data stream box ini hanya membutuhkan speed kisaran 200 KBs untuk melakukan tranfers data in real times.
untuk lebih jalas informasi tentang stream box ini silahkan liat di bgan (broadband global area network adalah jaringan internet dengan menggunakan satelit yang di prakarsai oleh imarsat/
Bgan sitem sendiri terbagi 2 yaitu REGIONAl bgan dan GLOBAL access network

secara garis besar bgun bisa juga dikatakan kumunikasi dengan menggunakan satelit/ penggunaan bgan secara dasar adalah unutk komunikasi suara dan transfer data,

pengalaman pelatihan, bgan hanya mampu mentranfer data dengan kecepatan maksimal 429 kbs dengan lokasi di gedung indosat jakarta barat/ kecepatan ini jauh lebih rendah dengan kecepatan broadband yang mampu mencapai kecepatan hingga 7,2 MBs

untuk saat ini mungkin stream box lebih ungul dibanding livewire/ karena stream box memungkina kita untuk siaran life dengan badwith sangat kecil/ menurut data stream box ini hanya membutuhkan speed kisaran 200 KBs untuk melakukan tranfers data in real times. info lebih lanjut tentang streambox silakah liat di www.streambox.com/

sedikit tambahan cara melihat bandwith adalah
1 KB= 8Kb jadi jika kecepayan 256 kbs ,sebenarnya hanya memiliki bandwith sebesar 64 KB

Istilah-istilah dalam Produksi Film dan Acara TV

Sumber : http://wakji.wordpress.com/http://kuliahkomunikasi.blogspot.com


Cuplikan dari buku berjudul MARI MEMBUAT FILM, karya HERU EFFENDY, diterbitkan oleh PANDUAN tahun 2002-2005

Berikut ini adalah beberapa Glossary/Istilah yang umum dipakai di dunia Sinematografi & Produksi Teleisi.

Acting :
Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan

Addes Scenes :
Adegan yang ditambahkan kedalam konsep asli, biasanya diambil setelah film diselesaikan

Agent (Agent Model) :
Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka

Anamorphic :
Lensa yang digunakan dalam fotografi untuk memperkecil gambar widescreen ke ukuran 35mm. Proses ini dibalik ketika memproyeksikan hasil akhir film, memunculkan gambar kembali ke ukuran normal pada layarlebar.

Answer Print :
Married Print pertama dari film yang dibuat oleh lab pemroses film, dan kemudian akan digunakan untuk menetapkan standar kualitas film yang akan diedarkan kepada publik.

Apple Box :
Digunakan untuk meninggikan seorang aktor/aktris serta suatu obyek sesuai dengan ketinggian yang tepat untuk pengambilan gambar.

Art Departement :
Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara.

Ascpect Ratio :
Perbandingan antara lebar dan tinggi bingkai gambar (frame)
Rasio untuk tayangan televisi adalah 1,33:1 yang artinya lebar frame yang muncul di televisi adalah 1,33 kali dari tinggi.

Art Director :
Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.

Available Lighting :
Pengambilan gambar tanpa tambahan cahaya buatan manusia

Audio Visual :
Sebutan untuk perangkat yang menggunakan unsur suara dan gambar

Art Director :
Pengarah artistik dari sebuah produksi

Asisten Produser :
Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya

Audio Mixing :
Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.

Angle :
Sudut pengambilan gambar

Animator :
Sebutan bagi seorang yang berprofesi sebagai pembuat animasi

Audio Effect :
Efek suara

Ambience :
Suara natural dari obyek gambar

Broadcaster :
Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran

Background :
Latar belakang

Barn Doors :
Pintu berengsel yang dipasangkan di depan lampu studio yang dapat dibuka atau ditutup untuk memunculkan cahaya pada area tertentu di set.

Barney :
Bungkus kain pada pelindung yang dapat dipakaikan pada kamera film atau blimped kamera film, untuk mengurangi siara mekanisme. Ada juga heated barney yang digunakan dalam suhu dingin.

Best Boy :
Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.

Blank :
Selongsong senapan atau pistol yang berisi peluru buatan untuk menggantikan peluru yang sesungguhnya. Blank dipergunakan dalam film untuk mencegah terjadinya kecelakaan, walaupun sesungguhnya peluru kosong itu sendiri masih berbahaya jika ditembakan dan mengenai orang dalam jarak dekat.

Blimp :
Ruangan kedap suara yang mengelilingi kamera film untuk mencekah ikutn terekamnya bunyi mekanisme kamera kedalam alat perekam suara.

Blow Up :
Perbesaran ukuran film dari 16mm ke 35mm yang dilakukan di laboratorium untuk diputar di bioskop. Istilah ini juga dipergunakan dalam fotografi untuk memperbesar foto guna keperluan display atau promosi.

Body Frame, Body Pod :
Digunakan untuk menunjang hand held camera di lapangan.

Boom Man :
Individu yang mengoperasikan mikrofon boom.

Booth Man :
Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.

Breakaway :
Sebuah set atau hand property, misalnya botol atau kursi yang dirancang untuk rusak dengan cara-cara tertentu sesuai aba-aba.

Breakdown :
Biasanya merujuk pada jumlah spesifik rincian pengeluaran dalam sebuah produksi film. Dapat juga berarti pengaturan atau perencanaan berbagai adegan beserta urutan pengambilannya.

Budget :
Pengeluaran keseluruhan dari produksi film.

Blocking :
Penempatan obyek yang sesuai dengan kebutuhan gambar

Bridging Scene :
Adegan perantara di antara adegan-adegan lainnya

Back Light :
Penempatan lampu dasar dari sudut belakang obyek

Breakdown Shot :
Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara

Bumper In :
Penanda bahwa program acara tv dimulai kembali setelah iklan

Bumper Out :
Penanda bahwa program acara tv akan berhenti sejenak untuk iklan

Call :
Waktu yang diharapkan dari seorang individu anggota staf perusahaan, pemain, atau kru untuk berada di set. Jadwal biasanya didaftarkan pada call sheet yang menjadi tanggung jawab asisten sutradara dan manajer produksi.

Camera :
Sistem perangkat mekanik atau elektronik yang mengontrol pergerakan dari film yang belum diekspos di belakang lensa dan shutter dan yang menentukan gambar serta tingkatan cahaya yang masuk kedalam film. Mekanisme ini mungkin memiliki kontrol kecepatan.

Camera Boom :
Tempat kamera yang dapat berpindah, biasanya berukuran besar, tempat kamera dapat diproyeksikan keluar set dan atau dinaikan di atasnya.

Camera Departement :
Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.

Cameraman :
- First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.
- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.
- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film)
- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.

Camera Noise :
Bunyi Kamera. panggilan dari bagian tata suara (Sound Departement) di set untuk mereangkan bahwa ia menerima bunyi dari kamera sehingga harus digunakan kamera lain, melakukan perbaikan kamera atau diperlukan penghalusan tambahan terhadap kamera dengan menggunakan barney atau selimut.

Camera Report :
Salinan yang disimpan dalam tiap magazine film tempat asisten kameramen mencatat panjang pengambilan tiap adegan, nomer adegan, dan perintah untuk mencetak atau tidak. Laporan kamera diberikan ke laboratorium proses, bagian kamera, dan bagian produksi.

“Camera Right”, “Camera Left” :
Petunjuk bagi seorang aktor/aktris untuk berputar atau bergerak. Petunjuk ini berdasarkan sudut pandang sutradara atau kamera dan dibalik sesuai dengan keadaan aktor. Ketika menghadap lensa maka bagian kanan aktor adalah bagian kiri kamera dan juga sebaliknya.

Camera Tracks :
Lintasan Kamera yang terbuat dari metal atau lembaran kayu lapis ukuran 4 x 8 yang diletakkan dilantai untuk membawa dolly atau camera boom. Lintasan digunakan untuk menjamin kehalusan gerakan kamera.

Can :
Tempat/wadah untuk film.

Canned Music :
Musik yang belum ditulis untuk film tertentu namun telah direkam dan dikatalogkan menurut gayanya dalam perpustakaan sehingga dapat dibeli dan dipergunakan.

Casting Director :
Orang yang memimpin pemilihan dan pengontrakan aktor/aktris untuk memenuhi bagian yang dibutuhkan dalam sebuah naskah.

Century Stand :
Digunakan untuk menahan berbagai jenis bendera yang diperlukan untuk mengurangi intensitas cahaya atau untuk menghalangi sejumlah cahaya tertentu. Juga digunakan untuk menahan atau mendukung ranting daun atau efek lain yang berhubungan dengan pencahayaan.

Changing Bag :
Tas kedap cahaya dengan ritsleting ganda tempat magazines film dapat diletakkan untuk memindahkan film yang telah diekspose dan mengisi ulang magazine. Juga dibuat sehingga memungkinkan asisten kamera memasukkan tangan dan lengannya tanpa membiarkan film terkena cahaya. Biasanya digunakan jauh dari studio kaerna di studio, magazine diisi ulang diruang gelap di bagian kamera.

Character Man or Woman :
Pada saat-saat tertentu seorang aktor/aktris bermain karakter, biasanya istilah ini merujuk pada aktor/aktris yang paling sesuai secara fisik untuk peran-peran selain pemain utama romantis, peran remaja atau peran sederhana.

Cinema :
Merujuk pada Motion Picture. Berasal dari kata Yunani Kinema yang berarti gambar.

Cinema Scope :
Nama dagang untuk tujuan pemrosesan fotografi dan proyeksi yang mengikutsertakan kamera dengan lensa anamorfik atau proyektor dan ayar berlekuk ekstra panjang. Memungkinkan proyeksi dari gambar yang jauh lebih besar dari ukuran biasanya. Banyak film epic dibuat dalam Cinema Scope karena pengaruh dari ukuran terhadap penonton.

Cinematographer (Sinematografer) :
Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.

Cinemobile :
Nama dagang untuk unit lokasi pembuatan film yang lengkap dan dapt berpindah-pindah, membawa peralatan dan petugasnya dan memiliki banyak ukuran mulai dari van peralatan kecil sampai dengan bus besar.

Clapper Boards :
Sepasang papan berengsel yang diketukkan saat syuting dialog ketika kamera gambar dan alat rekam suara berputar dalam kecepatan yang sinkron. frame pertama ketika papan bersentuhan kemudian disinkronkan dalam ruang pemotongan dengan bunyi “bang”, memantapkan sync antara alur suara dan alur gambar. Pada banyak tipe sistem penanda elektronik dipasangkan sisi kamera.

Commercial :
Iklan. Film pendek yang umumnya berdurasi 60, 30, atau 15 detik yang dibuat khusus untuk menjual suatu produk.

Composite Print :
Film yang telah diedit termasuk semua gambar, suara, dan musik yang telah dicetak ke dalam sebuah film.

Contact Glass :
Alat bantu penglihatan terbuat dari kaca berwarna gelap berbentuk seperti monacle yang dipakaikan ke salah satu mata Penata Fotografi selama pencahayaan set untuk memeriksa tingkatan kontras dari pencahayaan tersebut.

Cook, Cookie :
Dapat berupa kain dengan bingkai kawat atau lembaran kayu lapis atau plastik yang diberi pola daun ranting atau bunga untukmemunculkan bayangan pada permukaan datar. kadang buram atau tembus cahaya seperi sebuah scrim. berasal dari bahasa Yunani kukaloris yang berarti memecah cahaya.

Copter Mount :
Copter kamera untuk penggunaan dalam pengambilan gambar aerial helikopter yang berfungsi menjaga kamera dari vibrasi helikopter. Nama dagangnya adalah Tyler Mount.

Costume Designer :
Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.

Coverage :
Keseluruhan koleksi hasil pengambilan gambar individual, sudut, dan set yang terdiri dari segala kebutuhan film untuk membuat sebuah cerita lengkap.

Cover Set :
Set yang digunakan untuk syuting bila adegan eksterior yang diusahakan ternyata terganggu oleh kondisi cuaca yang tidak mendukung.

Cover Shot :
Bagian dari pengambilan film untuk menyediakan materi transisi dari satu bagian adegan ke bagian adegan lain dalam sebuah adegan yang sama. Bisa juga digunakan sebagai gamabr tambahan atau cadangan kalau perekaman pertama tidak berhasil. Juga disebut sebagai “insurance”.

Cue :
Tanda bagi aktor/aktris dalam film untuk memunculkan bagiannya dalam dialog atau tindakan. Isyarat ini dapat berupa tindakan aktor/aktris lainnya, bagian akhir dari sebuah dialog, tanda dari sutradara atau isyarat cahaya.

Cue Light :
Bola lampu kecil yang dapat dinyalakan atau dimatikan oleh sutradara atau asisten sutradara dan diletakkan diluar jangkauan pandang kamera tetapi dalam jangkauan pandang aktor untuk memberi isyarat. Isyarat cahaya ini menghindari isyarat secara verbal yang dimunculkan oleh aktor.

Cut and Hold :
Perintah dari sutadara agar adegan diberhentikan namun aktor/aktris tetap berada dalam posisinya. Sutradara mungkin ingin memeriksa pencahayaan, posisi, atau mengatur adegan lain yang saling bersinggungan.

Cut Back :
Mengubah gambar dalam film secara cepat dari adegan saat ini ke adegan lain yang telah dilihat sebelumnya. Pemotongan ini Dilakukan tanpa ada transisi.

Cutting on The Action :
Menggunakan sebuah tindakan besar dari seorang aktor/aktris sebagai titik untuk masuk lebih dekat atau lebih jauh dari orang tersebut.

Cutting Room :
Tempat peralatan seorang editor film berada, misalnya moviola dan lain sebagainya dan tempat film akan digabungkan sesuai cerita yang berkesinambungan. Ruang ini biasanya ada dalam sebuah studio namun dapat saja berada pada lokasi tersendiri dan terpisah dari daerah studio.

Cut to :
Secara cepat mengubah gambar dalam film dari adegan masa kini ke adegan lainnya tanpa adanya transisi.

Credit Title :
Urutan nama-nama tim produksi dan pendukung acara

Chroma Key :
Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara
gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam
prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai
kebutuhan foreground dan background

Cutting on Beat :
Teknik pemotongan gambar berdasarkan tempo

Clip Hanger :
Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin
tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena
ada jeda iklan komersial

Cut :
Pemotongan gambar

Cutting :
Proses pemotongan gambar

Camera Blocking :
Penempatan posisi kamera yang sesuai dengan kebutuhan gambar

Clear-Com :
Sebutan bagi penggunaan headset audio yang dihubungkan dengan
Master Control

Channel :
Saluran

Crazy Shot :
Gambar yang direkam melalui kamera yang tidak beraturan

Composition :
Komposisi

Continuity :
Kesinambungan

Cross Blocking :
Penempatan posisi obyek secara silang sesuai dengan kebutuhan

Crane :
Alat khusus/katrol untuk kamera dan penata kamera yang dapat
bergerak keatas dan kebawah

Clip On :
Mikrofon khusus yang dipasang pada obyek tanpa terlihat

Casting :
Proses pemilihan pemain sesuai dengan karakter dan peran yang
akan diberikan

Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak dekat

Dailies :
Hasil cetakan positif, dikirimkan setiap hari dari laboratorium berasal dari negatif film yang dipergunakan di hari sebelumnya.

Depth of Focus :
Area tempat berbagai benda yang diletakkan dengan berbagai ukuran jarak di depan lensa akan tetap memperoleh fokus yang tajam.

Dialogue Coach or Dialogue Director :
Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog saat pre-syuting.

Diffusers :
Potongan materi difusi diletakkan di depan lampu studio untuk memperhalus.

Director :
Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.

Documentary :
Film yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi yang sesungguhnya. Juga sebuah gaya dalam memfilmkan dengan efek realitas yang diciptakan dengan cara penggunaan kamera, sound, dan lokasi.

Dolly :
Kendaraan/alat beroda untuk membawa kamera dan operator kamera selama pengambilan gambar. Dolly biasanya dapat didorong dan diarahkan oleh satu orang yang disebut Dolly Grip.

Dollying :
Pergerakan kamera selama pengambilan gambar dengan menggunakan kendaraan/alat beroda yang mengakomodasikan kamera dan operator kamera. Kadang disebut juga tracking atau trucking.

Double :
Bisa diartikan pemain tambahan yang menggantikan aktor/aktris selama pengaturan cahaya atau dapat berarti stunt yang menggantikan aktor/aktris dalam adegan berbahaya.

Dress The Set :
Perintah untuk menempatkan banyak benda (misal lampu, asbak, bunga, atau lukisan) di set untuk memunculkan realitas.

Drift :
Ketika seorang aktor/aktris hampir tidak disadari bergerak keluar dari posisinya. Dapat juga berupa petunjuk untuk menghilang dengan suatu cara tertentu, dengan arti melakukan perlahan dan bertahap.

Dual Role :
Pemutaran lebih dari satu bagian peran seorang aktor/aktris dalam sebuah film yang sama.

Dubbing :
Perekaman suara manusia secara sinkron dengan gambar film. Suaranya mungkin atau mungkin tidak berasal dari aktor/aktris yang sesungguhnya serta bisa juga bahasa yang digunakan ketika film tersebut dibuat.
Dubbing biasanya diselesaikan dengan menggunakan Film Loops - bagian pendek dari sebuah gambar beserta dialognya dalam bentuk married print. Aktor/aktris menggunakan gambar dan soundtrack playback sebagai panduan untuk mensinkronkan gerakan bibir dalam gambar dengan perekaman suara terbaru. Umumnya digunakan untuk memperbaiki perekaman asli yang buruk., performa artistik yang tidak dapat diterima atau kemungkinan kesalahan dalam dialognya. Juga digunakan untuk perekaman lagu dan versi bahasa lain setelah proses pemfilman.

Dulling Spray :
Sebuah penyemprot aerosol yang menyisakan lapisan yang tidak mengkilat pada permukaan apapun dan tidak mengakibatkan penyilauan pada lensa kamera.

Durasi :
Waktu yang diberikan atau dijalankan

Dimmer :
Digunakan untuk mengontrol naik turunnya intensitas cahaya

Dissolve :
Teknik penumpukan gambar pada editing maupun syuting multi kamera

Depth of Field :
Area dimana seluruh obyek yang duterima oleh lensa dan kamera
muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh
jarak antara obyek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop

Dramatic Emotion :
Emosi gambar secara dramatis

Editing :
Proses pemotongan gambar

Editor :
Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongan
gambar video dan audio.

Editorial Departement :
Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser.

Electric Departement :
Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film.

Electrician :
Orang yang bertanggung jawab terhadap penempatan dan penyesuaian cahaya serta menyediakan listrik sesuai kebutuhan tiap alat.

Exclusive Contract :
Kontrak yang menyatakan bahwa seseorang dapat bekerja hanya untuk orang atau perusahaan tertentu yang mengontraknya.

Exhibitor :
- Orang atau perusahaan yang memiliki bioskop atau drive-in atau rantai lain yang memungkinkan ditontonnya sebuah film.
- Teater atau drive-in yang mempertunjukkan sebuah film.

Exposed :
Bahan baku film yang telah dipakai untuk merekam gambar. Kata “exposed” wajib dicantumkan pada setiap can film yang telah dipakai.

Ext. :
Eksterior. Bagian manapun dari film yang direkam di luar ruangan; jalanan kota, stadium, gurun, hutan, atau puncak gunung, beberapa lokasi dapat dibuat ulang di sounstage studio namun tetap dinamakan eksterior dalam naskah.

Extra :
Orang yang dipekerjakan sebagai pemain latar, misalnya sebagai salah satu orang dalam kerumunan dalam adegan di jalan.

Engineering :
Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalah
teknis penyiaran

Establish Shot :
Gambar yang natural dan wajar

Extreme Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak dekat

Fade Out, Fade In :
Efek berupa gamabr yang perlahan hilang dan menjadi gelap (fade out) atau gambar yang muncul dari kegelapan (fade in). Digunakan untuk menekankan berlalunya waktu atau akhir dari adegan atau cerita.

False Move :
Gerakan yang tidak terencana oleh aktor/aktris sebelum melakukan gerakan yang telah direncanakan. False Move yang dilakukan aktor dapat memunculkan masalah dengan mengatur Dolly Grip untuk bergerak bersama dolly dan kamera karena ia berpikir bahwa gerakan aktor adalah isyarat untuk menggerakan kamera.

Fast Motion :
Melakukan pemfilman dengan kecepatan dibawah standar kemudian memproyeksikan dengan kecepatan standar untuk membuat tindakan terlihat lebih cepat dari normal. Juga menciptakan efek masa lalu dan film bisu.

Feature Part :
Peran yang tidak terlalu penting untuk seorang bintang, tapi cukup besar untuk memunculkan perhatian khusus. Biasanya dilakukan oleh aktor/aktris yang telah dikenal baik oleh penonton. Saat ini lebih dikenal dengan Cameo.

Fifty-fifty :
Biasanya sudut kamera atau pengambilan gamabr ketika dua orang aktor/aktris saling berhadapan, berbagi lensa dengan adil. Juga disebut sebagai a two shot atau a two.

Fill Light :
Set pencahayaan umum yang digunakan untuk memperhalus kontras dari key lighting.

Film :
Media untuk merekam gambar yang menggunakan selluloid sebagai bahan dasarnya. Memiliki berbagai macam ukuran lebar pita seperti 16mm dan 35mm.

Film Clip :
Bagian pendek dari sebuah film.

Film Loader :
Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose ke dalam can.

First Run :
Pertama kali sebuah film dilepas ke bioskop untuk ditonton. Saat ini lebih dikenal dengan premiere.

Fishpole Boom :
Sebuah tiang ringan yang dapat digenggam dan dapat dipindahkan untuk digunakan meletakkan mikrofon di lokasi yang sulit selama pemfilman.

Flag :
Miniatur Gobo dari kayu lapis atau kain pada bingkai metal yang diletakkan pada century stand.

Flare :
Ketika suatu obyek atau cahaya dari set memantulkan cahaya yang tidak diinginkan scara langsung pada lensa.

Flashback :
Bagian dari cerita film yang mengisahkan waktu periode awal, tergantung dari cerita.

Flub :
Ketika aktor/aktris melakukan kesalahan dalam pengucapan dialog - flubbed his line

Fluid Head :
Landasan pada tripod kamera yang memberikan gerakan halus untuk kamera melalui penggunaan flywheel yang diletakkan dalam wadah berisi minyak dalam landasan itu sendiri.

Focus :
Penyelarasan gambar secara detail, tajam, dan jernih hingga mendekati
obyek aslinya

Fog Maker :
Menggunakan cairan khusus sehingga fog maker dapat memunculkan efek kabut, asap, efek kabur (blur), dan kelembaban. Dengan menggunakan cairan jenis lain maka dapat digunakan untuk menghilangkan kabur yang tidak diinginkan. Alat ini dapat berukuran kecil, mesin yang dapat digenggam atau mesin besar yang diletakkan di kereta.

Follow Focus :
Perubahan fokus kamera selama adegan untuk mempertahankan fokus pada aktor/aktris yang bergerak mendekati atau menjahui kamera. Biasanya menjadi tugas first assistant cameraman.

Follow Shots :
Pengambilan gambar dengan kamera bergerak memutar untuk mengikuti pergerakan pemeran dalam adegan.

Final Editing :
Proses pemotongan gambar secara menyeluruh

Floor Director :
Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikan
keinginan sutradara dari master control ke studio produksi

Footage :
Gambar-gambar yang tersedia dan dapat digunakan

Footage Counter :
Alat penghitung yang berada pada kamera untuk tetap dapat mengikuti jumlah film yang telah diekspose.

Four Walled Set :
Sebuah set yang memiliki 4 dinding bukan 3 seperti biasanya. Keempat dinding menutup area aksi secara sempurna namun mungkin dapat dipindahkan untuk memungkinkan pergerakan cahaya dan kamera selama melakukan pengambilan gambar.

Frame :
- Suatu gambar dari banyak gambar pada gulungan film yang telah diekspose, ukuran frame bervariasi sesuai format yang akan diambil gambarnya.
- Menyesuaikan kamera dan lensa sehingga gambar yang akan diambil memiliki batasan yang diinginkan.

Frame per Second (fps) :
Sebuah film 35mm berputar dalam kamera dengan kecepatan normal menghasilkan 24 frame perdetiknya sehingga bila banyak frame yang diputar tiap detiknya aksi dari subyek akan diperlambat ketika diproyeksikan dalam kecepatan normal. Bila lebih sedikit dari 24 frame yang diputar maka aksi tampat dipercepat bila diproyeksikan dengan kecepatan normal.

Freelancer :
Orang yang tidak terikat kontrak dengan produser atau perusahaan manapun.

Freeze :
Perintah bagi aktor/aktris untuk menghentikan aksi namun mempertahankan posisinya. Dalam film yang aktor/aktris atau obyek lain muncul dengan tiba-tiba misalnya “pop in” pada layar maka aktor/aktris dalam adegan akan diminta untuk diam. Orang atau obyek kemudian ditempatkan di posisinya kemudian perintah untuk “action” diberikan dan adegan dilanjutkan. Dalam pemotongan film di bagian tengah dari masuknya aktor/aktris atau penempatan obyek akan dihilangkan.

Gaffer :
Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set.

Geared Head :
Unit dimana kamera dipasangkan yang dapat dihubungkan pada dolly atau crane dan panned (gerakan secara horisontal) atau tilted (gerakan secara vertikal) memungkinkan kamera untuk mengikuti gerakan.

Gen :
Truk generator yang digunakan untuk menyediakan tenaga listrik ketika unit film berada di lokasi atau tambahan penyediaan tenaga di studio. Juga disebut sebagai genset.

Gobo :
Layar kayu yang dicat hitam. Digunakan untuk menghalangi cahaya dari sati atau lebih pencahayaan lampu studio, suatu set peralatan yang digunakan untuk mecegah jatuhnya cahaya yang tidak diinginkan ke lensa kamera atau area set. Biasanya diletakkan pada sanggahan yang dapat disesuaikan. Gobo tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Green Departement :
Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan.

Grip :
Orang yang berwenang memindahkan dan mengatur trek atau jalannya kamera - apapun yang membutuhkan cengkeraman yang kuat - di set.

Grip Chain :
Rantai ringan yang digunakan untuk berbagai keperluan yang dilakukan oleh bagian grip. pada set biasanya digunakan pada sekitar kaki kursi atau sofa yang ditempati pemain untuk mencegahnya bergerak.

Hairdresser :
Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.

Hairdresser Departement :
Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris.

Hand Cue :
biasanya diberikan oleh sutradara atau asistennya untuk menunjukan waktu masuk seorang aktor/aktris atau bagian khusus dari suatu adegan.

Hand Held :
Mengambil gambar dengan kamera ringan seperti handycam, jenis yang dapat ditahan oleh operator kamera dengan tangannya selagi mengambil gambar, berlawanan dengan meletakkannya pada gear head atau tripod. Memberikan fleksibilitas yang lebih. Teknik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod

Headroom :
Ruangan bagian atas suatu obyek dalam gambar dengan bagian atas frame.

High Head :
Tripod logam kecil dengan ketinggian tertentu yang dapat dipasangkan ke lantai untuk mempertahankan posisinya. Digunakan untuk menahan kamera saat pengambilan gambar dengan sudut rendah.

Hot Set :
Suatu set yang telah diisi barang dan dekor untuk syuting. Penggambaran ini biasanya mengindikasikan bahwa set tersebut tidak boleh dimasuki atau digunakan.

Hot Spot :
Area dalam set yang memiliki pencahayaan yang sangat terang.

Hunting Location :
Proses pencarian dan penggunaan lokasi yang tepat dan terbaik
untuk syuting.

Idiot Cards :
Kartu besar tempat dialog dituliskan untuk aktor yang tidak dapat mengingat kalimatnya. Dapat juga berarti sebuah bagian mesin elektronik yang mahal disebut Tele-Prompter, dimana sebuah gulungan kertas ditempatkan di depan atau dekat dengan kamera dan dituliskan dialognya dengan huruf yang besar sehingga mudah untuk dibaca. Bisa juga disebut dengan Cue cards.

Independent :
Seseorang yang membuat film tanpa dipekerjakan oleh sebuah studio besar.

Insert Shot :
Suatu obyek biasanya yang dicetak seperti surat kabar atau sebuah jam, dan dimasukkan ke dalam rangkaian untuk menjelaskan tindakan.

Int. :
Interior. Bagian dari film yang diambil didalam ruangan. Interior dapat berupa set yang dibentuk di studio atau diluar studio. Lebih dikenal sekarang ini sebagai location interiors.

Intercut :
Mengubah urutan tindakan dari belakang ke depan dari sebuah adegan ke adegan lain, biasanya dilakukan dengan kecepatan cukup tinggi.

Iris :
bagian yang terbuka dari sebuah lensa atau bagian belakang yang mengatur masuknya cahaya kdalam film. ukuran Iris dapat dikontrol oleh operator kamera.

Jell :
Gelatin atau materi plastik berwarna yang digunakan di depan sebuah lampu untuk mengubah warna cahaya dari lampu tersebut. Bisa juga disebut dengan Gel.

Jumping Shot :
Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan

Jimmy Jib :
Katrol kamera otomatis yang digerakan dengan remote

Key Grip :
Orang yang memimpin para pekerja grip.

Key Light :
Cahaya utama yang digunakan untuk menerangi subyek tertentu.

Lab :
Secara umum disebut sebagai suatu tempat untuk memproses exposed film pada tahap akhir.

Lens (Lensa) :
Konstruksi dari berbagai macam potongan kaca yang dipasang sesuai kebutuhan dan dimasukkan kedalam tube metal. Beberapa jenis lensa bersifat tetap dalam arti tidak dapat diubah-ubah panjangnya.

Light Meter :
Instrumen kecil dan dapat dipegang dengan tangan yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya.

Lining Up :
Membatasi adegan. Operator kamera atau sutradara mengatur penempatan kamera sehingga mencakup ruang pengelihatan yang diinginkan. Dapat juga berarti framing.

Limbo :
Melakukan pengambilan gambar pada area atau set yang tidak dapat dijelaskan sebagai suatu lokasi khusus. Dapat digunakan untuk adegan close-up, insert, dan lain sebagainya.

Lip-Sync :
Sesi perekaman saat seoarang aktor/aktris menyesuaikan suaranya dengan gerakan bibir dari gambar.

Location Departement :
Bertanggung jawab untuk mendapatkan lokasi khusus yang dibutuhkan untuk syuting film serta membuat penagturan agar seluruh kru dan peralatan dapat mencapai lokasi tersebut.

Long Focus Lens :
Istilah yang relatif digunakan untuk menggambarkan lensa yang lebih panjang dari ukuran fokus normal (telephoto) dan memberikan perbesaran image.

Looks :
Arah khusus yang diminta pada aktor/aktris untuk menagrahkan matanya dengan tujuan untuk menyesuaikan tindakan pada gambar sebelumnya. Bisa juga untuk mengindikasikan lokasi seseorang atau benda yang tidak ada dalam gambar, misalnya diluar kamera.

Long Shot :
Gambar direkam dari jarak jauh. Biasanya digunakan dengan cara
pengambilan gambar dari sudut panjang dan lebar.

Magazine :
Wadah film yang membentuk bagian dari suatu kamera atau proyektor. Magazine bersifat tahan cahaya serta tidak memungkinkan cahaya untuk masuk ke film yang belum atau sudah exposed didalam magazine.

Magnetic Recorder :
Alat perekam pita magnetik.

Make-Up Call :
Waktu untuk aktor/aktris berada pada bagian make-up atau ruang rias sebelum dimulainya syuting.

Make-Up Departement :
bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.

Mark It :
Perintah terhadap asisten kamera untuk melepaskan clapper stick pada slate board untuk memberikan tanda suara pada adegan ketika kamera sedang berjalan pada kecepatan fotografi.

Marks :
Digunakan untuk memberikan referensi pada aktor/aktris atau dolly mengenai posisi tertentu dalam suatu adegan. Tanda ini dapat dibuat ditanah atau lantai dengan menggunakan kapur, kertas perekat, tees atau segitiga dari kayu serta metal.

Married Print :
Gabungan antara track gambar dan suara setelah film tersebut selesai diedit. Istilah ini tidak dikenal dalam produksi dengan menggunakan format video.

Match :
Menghasilkan ulang suatu tindakan yang dilakukan dalam adegan lain sehingga keduanya dapat dipotong sehingga menghasilkan posisi yg dapat disesuaikan.

Matching Directions :
Penyesuaian adegan dalam film seperi masuk dari kiri ke kanan sehingga orang atau alat transportasi dalam film tidak memiliki arah yang terbalik ketika pengambilan gambar lain dimasukkan.

Matte :
Sebuah cut-out atau penutup sebagian yang diletakkan didepan lensa untuk mencegah ekspose dari bagian film. Misalnya sepasang kembar identik sedang berbicara, padahal hanya satu aktor/aktris yang memerankan peran tersebut.

Matte Box :
Sebuah frame yang dipasang didepan lensa kamera dan didesain untuk menahan matte kamera yang digunakan pada suatu efek khusus. Matte Box biasanya dikombinasikan dengan sunshade.

Measuring Tape :
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur jarak dari lensa ke subyek dengan tujuan untuk menentukan fokus secara tepat.

Microphone Shadow :
Munculnya bayangan dari mikrofon pada bagian set yang masuk pada area pandang kamera. Bila muncul pada gambar maka it’s a no-no (gambar tidak terpakai)

Mock-Up :
Tiruan suatu benda yang dibuat seperti asli tapi hanya berupa bagian tertentu saja menurut kebutuhan.

Montage :
Urutan gambar yang mengalir, menyatu, atau kadang dipotong dari yang satu ke yang lainnya. Digunakan untuk memperlihatkan peningkatan atau pembalikan waktu terhadap perubahan lokasi.

M.O.S. :
Porsi gamabr dari sebuah adegan yang diambil tanpa merekam suaranya. Inisial ini awalnya muncul dari sutradara Eropa yang tidak dapat mengucapkan WS dan mengatakan Mit Out Sound.

Moving Shot :
Teknik pengambilan gambar dari obyek yang bergerak.

Music Departement :
Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.

Master Control :
Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada suatu produksi acara

Medium Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak yang cukup dekat

Medium Shot :
Gambar diambil dari jarak dekat

Medium Long Shot :
Gambar diambil dari jarak yang panjang dan jauh

Middle Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak sedang

Master Shot :
Gambar pilihan utama dari sebuah adegan yang kemudian dijadikan referensi atau rujukan pada saat melakukan proses editing.

N.G. :
No Good (tidak baik) Istilah ini dipakai sebagai komentar terhadap pengambilan gambar yang tidak baik pada laporan kamera dan suara, misalnya N.G. Sound, N.G. Action

NTSC (National Television Standards Committee)
Sistem warna televisi yang dipergunakan di negara Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, NTSC terdiri dari 525 garis pemindaian yang berada pada rate 30 frame perdetiknya.

Non-Exclusive Contract :
Kesepakatan dimana sesorang dijamin untuk ikut dalam sejumlah produksi namun diperbolehkan untuk bekerja pada produksi lainnya.

Non-Theatrical Film :
Film yang tidak dipertontonkan di bioskop melainkan untuk film pelatihan.

O.S. :
Off Screen (tidak tampak pada layar)

Outs, Out Takes :
Bagian gambar yang tidak masuk pada versi lengkap dari sebuah film.

Overlap :
Perintah untuk aktor/aktris agar memulai dialog tanpa harus menunggu pemeran lainnya menyelesaikan dialognya.

Opening Scene :
Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita.
Biasanya adegan ini dikemas secara kreatif dan menarik untuk
mendapatkan perhatian dari penonton

PAL (Phase Alternation by Line) :
Sistem warna televisi yang pertama kali dibuat di Jerman, dan digunakan di Eropa dan beberapa negara lain termasuk Indonesia. PAL terdiri dari 625 garis pemindaian berada pada rate 25 frame perdetiknya.

Plot :
Alur cerita dari sebuah naskah.

P.O.V. :
Point of View (Sudut Pandang).

Practical :
Deskripsi dari sesuatu dalam sebuah set film seperti pada kehidupan nyata. Misalnya kompor gas, bak cuci, pintu terbuka, pencahayaan lampu.

Print :
Perintah ketika pengambilan gambar telah lengkap dan dikirim ke laboratorium untuk dikembangkan.

Producer :
Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer.

Production Departement :
Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi.

Production Assistant :
Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi.

Production Manager :
Orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal sampai produksi itu selesai.

Production Unit :
Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi.

Prop Box (Kotak Properti) :
Tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran serta memiliki roda yang gunanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang kebutuhan suatu produksi.

Prop Man :
Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi.

Power Pack :
Tempat khusus untuk pembagian arus listrik

Panning :
Pergerakan horisontal kamera dari kiri kekanan maupun sebaliknya

Rain Cluster :
Sebuah perangkat sprinkler yang dapat digantung diatas kepala untuk memberikan simulasi efek dari hujan. Di sini sering memakai semburan dari mobil pemadam kebakaran.

Raw Stock :
Film yang belum diekspose.

Reaction Shot :
Pengambilan gambar yang dimasukkan dalam sebuah adegan untuk menunjukkan efek kalimat atau tindakan terhadap partisipan lain dalam adegan tersebut.

Reel of Film :
Jumlah film yang akan diproyeksikan dalam waktu 10 menit. 900 feet untuk ukuran 35mm atau 360 feet untuk ukuran 16mm. Gulungan standar dapat menampung film sepanjang 1000 feet untuk 35mm dan 400 feet untuk 16mm.

Reflector :
Pemantul yang permukaannya berlapis perak digunakan untuk memantulkan cahaya. Untuk pengambilan film eksterior reflektor sering digunakan untuk mengarahkan sinar matahari ke bagian dalam suatu adegan.

Release Print :
Married Print yang dibuat untuk didistribusikan ke bioskop setelah answer print (telah disetujui)

Re-Load :
Penanda dari departemen kamera atau tata suara ketika mereka telah kehabisan persediaan untuk merekam.

Remake :
Produksi suatu film yang sebelumnya telah diproduksi.

Re-Run :
Memutar ulang suatu film atau acara televisi.

Research Departement :
bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum, dan peristiwa dalam sebuah film sebelum produksi film tersebut dijalankan.

Resolution, Resolving Power :
Kemampuan lensa atau film untuk menangkap serta menunjukkan detail yang halus.

Re-Take :
Pengulangan sebuah adegan dalam syuting.

Reverse, Reverse Angle :
Lawan dari sudut kamera dari adegan yang baru saja diselsaikan untuk memperlihatkan sisi lain dari gambar.

Rigging :
Sebuah rangka pondasi untuk penyangga lampu penerangan pada suatu set. Sering disebut juga dengan Scaffolding.

Roll, Rool ‘em :
Perintah yang biasanya diberikan oleh asisten sutradara ketika sutradara merasa adegan telah siap untuk pengambilan gambar dengan memfungsikan kamera film dan peralatan rekam lainnya.

Rough Cut :
Penggabungan dari berbagai adegan film menurut suatu cerita yang komprehensip, biasanya sudah dengan dialog dan soundtrack.

Running Shot :
Menggerakkan kamera untuk menyesuaikan dengan aktor/aktris ketika mereka menyeberangi set atau lokasi.

Rushes :
Cetakan dari hasil pengambilan gambar hari itu yang diproses pada hari yang sama sehingga dapat dilihat pada besoknya.

Rundown :
Susunan isi dan alur cerita dari program acara yang dibatasi oleh
durasi, segmentasi, dan bahasa naskah

Run Through :
Latihan akhir bagi seluruh pendukung acara yang disesuaikan dengan
urutan acara dalam rundown

Retake :
Pengambilan ulang suatu gambar/adegan

Sandbag :
Tas/bungkusan berisi pasir untuk pemberat.

Scouting :
Mencari lokasi untuk produksi atau bisa juga mencari orang yang berbakat.

Screen Play :
Naskah lengkap yang menjadi bahan untuk melakukan produksi film.

Screen Test :
Sebuah adegan yang memberikan kesempatan bagi aktor/aktris untuk memperlihatkan kemampuannya. Adegan ini biasanya diambil dari film untuk mempertimbangkan seorang aktor/aktris diambil lengkap dengan menggunakan kostum, set, dan riasan.

Scrim :
Sebuah bendera yang dibuat dari materi tembus cahaya. Kegunaannya adalah sebagian untuk mengurangi dan mendifusikan sumber cahaya. Berada ditengah antara sebuah gobo dan sebuah diffuser.

Script Supervisor, Script Clerk :
Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.

Sequence :
Sebuah rangkaian adegan.

Shutter :
Mekanisme kamera yang mencegah cahaya masuk ke film diantara pengukuran frame segingga serial foto yang terpisah memiliki jarak walaupun gulungan film tetap diputar dalam kamera.

Sneak, Sneak Preview :
Pemutaran film di bioskop tanpa pemberitahuan sehingga pembuat film dapat memperoleh tanggapan dari penonton sebelum didistribusikan secara umum. Seringkali tanggapan dari penonton untuk membuat perubahan dalam film yang menurut produser akan membuat film tersebut lebih berhasil dipasaran.

Soft Focus :
pengambilan gambar dengan lensa yang diatur sedikit out of focus sehingga subyek tampak agak buram. seringkali digunakan ketika memfoto seorang aktor.aktris yang mulai terlihat berkerut.

Soft Light :
Pencahayaan lampu yang memungkinkan tidak menghasilkan bayangan dan berpendar secara keseluruhan.

Sound Camera :
Kamera yang beroperasi dengan tenan selama perekaman gambar sehingga suara dapat direkam tanpa adanya bunyi dari kamera.

Splice, Splicing :
Penggabungan akhir dari 2 buah film sehingga terbentuk sebuah kesatuan yang berkesinambungan. Proses ini disebut splicing, hubungannya disebut splice.

Sprocket :
Roda dengan gerigi teratur yang mencengkeram bagian pinggir film untuk menggerakkannya didalam kamera.

Still man, Photographer :
Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.

Stop Frame :
Pengulangan sebuah frame film untuk memberikan efek diam pada aksi. Juga disebut dengan freeze frame.

Story Board :
Sketsa yang menggambarkan adegan dalam film. Digunakan untuk mempemudah pengambilan gambar.

Sunshade (Lens Shade) :
Kotak persegi panjang untuk meningkatkan ukuran lensa keluar, dipasangkan pada kamera diabgian lensa depan untuk mencegah masuknya cahaya kedalam lensa.

Super, Superimposure :
Penempatan sebuah gambar diatas gambar lainnya, misalnya title atau subtitle terjemahan bahasa.

Swish Pan :
Gerakan panning ketika kamera digerakkan secara cepat dari sebuah sisi ke sisi lainnya, menyebabkan gambar menjadi kabur untuk memunculkan kesan gerakan mata secara cepat.

Simply Shot :
Gambar yang diambil dari sudut yang mudah

Script Format :
Format penulisan naskah acara

Script Marking :
Penandaan pada naskah untuk menjadi catatan bagi sutradara maupun
pendukung produksi lainnya

Stock Shot :
Berbagai bentuk gambar yang diciptakan untuk menjadi pilihan pada
saat gambar-gambar tersebut memasuki proses editing

Suspense :
Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adegan yang menegangkan
dan mengundang rasa was-was bagi penonton

Steady Shot :
Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak dan dapat dinikmati
dengan posisi diam

Slow Motion :
Pergerakan gambar yang diperlambat sesuai dengan kebutuhan cerita

Tag, Tag Line :
Kalimat atau tindakan dalam sebuah adegan terakhir dari sebuah film yang diharapkan dapat menjadi puncak dari apa yang telah disuguhkan sebelumnya.

Teaser :
Adegan pertama dari keseluruhan gambar dari cerita. Biasanya adegan yang menarik, digunakan di televisi.

Tele-Photo Lens :
Lensa dengan panjang fokus lebih besar dari normal yang digunakan untuk membuat obyek jauh menjadi dekat.

That’s a Hold :
Perintah dari sutradara pada script supervidor dan asisten kamera bahwa pengambilan gambar yang baru saja selesai tidak akan dikirim ke lab untuk dicetak tapi diberi label “hold” sampai pengambilan gambar lainnya telah selesai dan sutradara memutuskan gambar mana yang akan dicetak.

Tilt :
Menggerakan kamera secara vertikal (naik-turun)

Tone Track :
Soundtrack yang memunculkan bunyi latar yang diasosiasikan dengan lokasi interor atau eksterior. Suara ini biasanya tidak disadari namun memberikan sentuhan realitas yang dibutuhkan oleh sebuah film.

Top Lighting :
Cahaya dari sumber yang diletakkan diatas subyek sehingga turun menyinari.

Transportation Departement :
Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain.

Treatment :
Presentasi detail dari cerita sebuah film namun belum berbentuk naskah.

Triangle :
Alat yang digunakan untuk menahan kaki-kaki tripod agar tidak bergerak jika diletakkan di lantai yang licin.

Two/Three Shot :
Perintah yang seringkali digunakan oleh sutradara untuk mengarahkan kamera pada dua/tiga obyek yang dituju.

Unit Manager :
Bertanggungjawab atas kelancaran operasi perusahaan film di lokasi.

Variable Speed Motor :
Variasi kecepatan film di kamera untuk keperluan efek khusus.

Viewfinder :
Instrumen optik yang diletakkan samping kiri blimp yang memungkinkan operator kamera untuk mengikuti aksi sementara kamera sedang berputar.

Voice Cue :
Sinyal vokal dari sutradara atau aktor/aktris dalam adegan bahwa sudah waktunya aktor/aktris lain masuk.

VTR :
Video Tape Recording

Very Long Shot :
Gambar yang diambil dari jarak yang sangat jauh

Voice Over :
Suara dari announcer atau penyiar untuk mendukung isi cerita (narasi)

Wardrobe Box :
Kotak penyimpanan kostum.

Wardrobe Departement :
Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.

Wild Line :
Kalimat yang biasanya direkam setelah pengambilan gambar atau diakhir syuting pada hari itu. Dipergunakan untuk mengulang kalimat dari suatu adegan yang telah diambil karena tidak jelas.

White Balance :
Prosedur untuk mengoreksi warna gambar dari kamera dengan
mengubah sensitivitas CCD ke dalam spektrum warna.
Umumnya prosedur ini menggunakan warna putih sebagai dasar

Wild Recording :
Perekaman yang tidak dilakukan selama proses fotografi. efek suara dan bunyi acak biasanya direkam dengan cara ini, kadang untuk narasi dan musik juga. Seringkali disebut Non-Sync.
Wind Machine :
Kipas angin besar yang ditutup dengan kawat pengaman. Digunakan untuk menciptakan efek angin.

Wipe :
Efek optik antara 2 gambar dimana gambar ke-2 mulai di bagian luar layar dan menghapus gambar pertama sampai dengan garis yang masih terlihat dan pada akhirnya menutupi gambar pertama.

Wrap :
Perintah yang digunakan untuk memberitahukan pada semua orang bahwa syuting pada hari itu sudah selesai.