Sumber : baticnews.wordpress.com
Jurnalistik Radio
DEFINISI
Jurnalistik radio (radio journalism, broadcast journalism) adalah proses produksi berita dan penyebarluasannya melalui media radio siaran.
Jurnalistik radio adalah “bercerita” (storytelling), yakni menceritakan atau menuturkan sebuah peristiwa atau masalah, dengan gaya percakapan (conversational).
KARAKTERISTIK
Auditif. untuk didengarkan, untuk telinga, untuk dibacakan atau disuarakan.
Spoken Language. Menggunakan bahasa tutur atau kata-kata yang biasa diucapkan dalam obrolan sehari-hari (spoken words). Kata-kata yang dipilih mesti sama dengan kosakata pendengar biar langsung dimengerti.
Sekilas. Tidak bisa diulang. Karenanya harus jelas, sederhana, dan sekali ucap langsung dimengerti.
Global. Tidak detail, tidak rumit. Angka-angka dibulatkan, fakta-fakta diringkaskan.
PRINSIP PENULISAN
ELF - Easy Listening Formula. Susunan kalimat yang jika diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama.
KISS - Keep It Simple and Short. Hemat kata, tidak mengumbar kata. Menggunakan kalimat-kalimat pendek dan tidak rumit. Gunakan sesedikit mungkin kata sifat dan anak kalimat (adjectives).
WTYT - Write The Way You Talk. Tuliskan sebagaimana diucapkan. Menulis untuk “disuarakan”, bukan untuk dibaca.
Satu Kalimat Satu Nafas. Upayakan tidak ada anak kalimat. Sedapat mungkin tiap kalimat bisa disampaikan dalam satu nafas.
ELEMEN PEMBERITAAN
News Gathering – pengumpulan bahan berita atau peliputan. Teknik reportase: wawancara, studi literatur, pengamatan langsung.
News Production – penyusunan naskah, penentuan “kutipan wawancara” (sound bite), backsound, efek suara, dll.
News Presentation – penyajian berita.
News Order – urutan berita.
TEKNIS PENULISAN: PILIHAN KATA
Spoken Words. Pilih kata-kata yang biasa diucapkan sehari-hari (spoken words), e.g. jam empat sore (16.00 WIB), 15-ribu rupiah (Rp 15.000), dll.
Sign-Posting. Sebutkan jabatan, gelar, atau keterangan sebelum nama orang. Atribusi/predikat selalu mendahului nama, e.g. Ketua DPR –Agung Laksono— mengatakan…
Stay away from quotes. Jangan gunakan kutipan langsung. Ubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, e.g. Ia mengatakan siap memimpin demo (”Saya siap memimpin demo,” katanya).
Avoid abbreviation. Hindari singkatan atau akronim, tanpa menjelaskan kepanjangannya lebih dulu, e.g. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri –BEM UIN—Bandung menggelar… (Ketua BEM UIN Bandung –Fulan—mengatakan…).
Subtle repetition. Ulangi secara halus fakta-fakta penting seperti pelaku atau nama untuk memudahkan pendengar memahami dan mengikuti alur cerita, e.g. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengatakan… Menurut Presiden…. Kepala Negara juga menegaskan….
Present Tense. Gunakan perspektif hari ini. Untuk unsur waktu gunakan kata-kata “kemarin”, “hari ini”, “besok”, “lusa”, bukan nama-nama hari (Senin s.d. Minggu). Mahasiswa UIN Bandung melakukan aksi demo hari ini… Besok mereka akan melanjutkan aksi protesnya…
Angka. Satu angka (1-9) ditulis pengucapannya. Angka 1 ditulis “satu” dst. Lebih dari satu angka, ditulis angkanya. Angka 25 atau 345 jangan ditulis: duapuluh lima, tigaratus empatpuluh lima. Angka ratusan, ribuan, jutaan, dan milyaran, sebaiknya jangan gunakan nol, tapi ditulis: lima ratus, depalan ribu, 15-juta, 145-milyar.
Mata uang. Ditulis pengucapannya di belakang angka, e.g. 600-ribu rupiah (Rp 600.000), 500-ribu dolar Amerika Serikat (US$ 50.000)
TANDA BACA KHUSUS
Dash. tanda garis pisah (–) untuk sebelum nama atau kata penting atau butuh penekanan.
Punctuation. Tanda Sengkang, yaitu tanda-tanda pemenggalan (-) untuk memudahkan pengucapan singkatan kata yang dieja. M-U-I, B-A-P, W-H-O, P-U-I, dsb
Garis Miring. Jika perlu, gunakan garis miring satu (/) sebagai pengganti koma atau sebagai tanda jeda untuk ambil nafas, garis miring dua (//) untuk ganti titik, dan garis miring tiga (///) untuk akhir naskah.
Contoh:
Menjelang Pemilu 2009/ sedikitnya sudah 54 partai politik/ mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM// Mereka akan diverifikasi untuk ikut Pemilu. Menurut pengamat politik –Arby Sanit/ banyaknya parpol itu menunjukkan animo elite untuk berkuasa masih tinggi///
PRODUK JURNALISTIK RADIO
Copy – Berita pendek, durasi 15-20 detik. Biasanya berita penting, harus cepat diberitakan, disampaikan di sela-sela siaran (breaking news) atau program reguler insert berita (news insert) tiap menit 00 tiap jam misalnya. Berupa Straight News.
Voicer – Laporan Reporter. Terdiri dari pengantar (cue) penyiar di studio dan laporan reporter di tempat kejadian, termasuk sound bite dan/atau live interview.
Paket. Panjangnya 2-8 menit. Isinya paduan naskah berita, petikan wawancara (soundbite).
Feature. Durasi 10-30 menit. Paduan antara berita, wawancara, ulasan redaksi, musik pendukung, dan rekaman suasana (wildtracking). Membahas tema tertentu yang mengandung unsur human interest. Bisa pula berupa dokumenter (documentary).
Vox Pop. Singkatan dari vox populi (suara rakyat). Berisi rekaman suara opini masyarakat awam tentang suatu masalah atau peristiwa.
Cue: Menjelang Pemilu 2009, sedikitnya sudah 54 partai politik mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM, guna diverifikasi sehingga bisa ikut Pemilu. Bagaimana tanggapan masyarakat tentang banyaknya parpol tersebut, berikut ini petikan wawancara kami dengan beberapa warga masyarakat:
Sound Bite : 1. “Bagus lah, biar banyak pilihan…” 2. “Saya sih mau golpu aja, gak ada partai yang bagus sih menurut saya mah…” 3. “Saya akan setia pada parpol pilihan saya, tidak akan kepengaruh oleh parpol baru, belum tentu lebih bagus ka…” dst.
NEWS PROGRAM
Buletin (Paket berita) – Berisi rangkaian berita-berita terkini (copy, straight news) –bidang ekonomi, politik, sosial, olahraga, dan sebagainya; lokal, regional, nasional, ataupun internasional. Durasi 30 menit atau lebih.Durasi bisa lebih lama jika diselingi lagu dan “basa-basi” siaran seperti biasa.
News Insert – insert berita.Berisi info aktual berupa Straight News atau Voicer. Durasi 2-5 menit bergantung panjang-pendek dan banyak-tidaknya berita yang disajikan. Biasanya disajikan setiap jam tertentu. Bisa berupa breaking news, disampaikan penyiar secara khusus di sela-sela siaran non-berita.
Majalah Udara — Berisi straight news, wawancara, dialog interaktif, feature pendek, dokumenter, dan sebagainya.
Talkshow – Dialog interaktif atau wawancara langsung (live interview) di studio dengan narasumber, atau melalui telepon
REFERENSI:
Asep Syamsul M. Romli, Broadcast Journalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, dan Scriptwriter, Penerbit Nuansa Bandung, 2004; Imelda Reynolds (ed.), Pedoman Jurnalistik Radio, Internews Indonesia, 2000; JB Wahyudi, Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi, Pustaka Utama Grafiti Jakarta, 1996; Torben Brandt dkk. (editor), Jurnalisme Radio: Sebuah Panduan Praktis, UNESCO Jakarta-Kedubes Denmark Jakarta 2001. Copyright (C) ASM. Romli.*
Showing posts with label Radio. Show all posts
Showing posts with label Radio. Show all posts
Harmonisasi Pemberitaan dan Pemasaran Radio
Sumber : internews.or.id
HARMONISASI PEMBERITAAN DAN PEMASARAN RADIO
1. Hubungan Pemberitaan dan Periklanan
a. Untuk menarik perhatian pendengar sekaligus pengiklan, radio wajib menunjukkan
kredibilitasnya.
b. Terkait usaha menjual produk jurnalistik, tantangan terbesarnya melindungi integritas
independensi materi pemberitaan itu.
c. Dalam konteks periklanan, karya jurnalistik berpeluang besar mengalami konflik dengan
target ekonomi radio.
d. Menafikan independensi pemberitaan untuk menyenangkan sponsor iklan, mempercepat
keruntuhan fondasi bisnis radio karena keputusan ini memperlemah integritas radio dan
kebijakannya.
2. Landasan Pemikiran
Landasan Sikap:
- Karya jurnalistik seharusnya ditentukan semata-mata melalui ‘kebijakan pemberitaan’.
- Sponsor karya pemberitaan tidak berhak mendikte atau mempengaruhi isi pemberitaan.
- Isi pemberitaan seharusnya nyata berbeda dibandingkan isi periklanan.
Panduan :
- Manajer berperan menyusun panduan berisi ketentuan hubungan pemberitaan dan
penjualan harus dimiliki radio.
- Panduan berisi rambu-rambu tentang kebijakan karya pemberitaan yang boleh dan tidak
diiklankan.
- Panduan dibuat tertulis dan dimiliki divisi pemberitaan maupun penjualan.
- Manajer berkewajiban menyamakan persepsi panduan ini antara divisi pemberitaan maupun
penjualan dan kalangan periklanan.
- Fakta yang pernah terjadi: akibat panduan ini tidak terkomunikasikan dengan baik,
kesimpangsiuran kebijakan pemberitaan dan periklanan, membuat radio pada posisi
memalukan di hadapan pendengar dan klien periklanan.
3. Isi Panduan
- Apa yang dimaksud sebagai isi pemberitaan, dan isi pemberitaan seperti apa yang boleh
disponsori dan tidak.
- Apakah ada pemberitaan yang diperlakukan khusus dan tidak termasuk dalam kebijakan
yang sudah disusun. Bila ada apa alasannya.
- Bila divisi pemberitaan bermaksud merancang isi khusus untuk memenuhi kebutuhan
periklanan, advetorial misalnya, bagaimana kebijakan dan aturannya.
- Bagaimana sistem dan prosedur antara profesi pemberitaan dan pemasaran berkomunikasi,
khususnya yang menyangkut gagasan pemasaran.
- Siapakah dalam struktur organisasi radio yang berhak dan bertanggung jawab mengijinkan
memproduksi advetorial atau pemberitaan boleh disponsori iklan.
4. Pertanyaan Penting Hubungan Pemberitaan dan Pemasaran
- Apa dampak atau konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang bila radio membuat atau
tidak membuat sistem dan prosedur hubungan pemberitaan dengan pemasaran ?
- Apa persepsi pendengar ketika mereka mendengar sponsor atau iklan dalam pemberitaan,
termasuk advetorial. Bagaimana dengan kekhawatiran pendengar yang mempertanyakan
kemungkinan iklan atau sponsor mempengaruhi kebijakan pemberitaan, atau nampaknya
akan mempengaruhi isi pemberitaan. Akankah hal ini mengganggu citra dan reputasi radio ?
- Bagaimana manajer menjelaskan keputusan mengijinkan advetorial dan sponsor
pemberitaan kepada pendengar, personil siaran dan pemberitaan di radio ?
- Apakah manajer akan menuangkan secara tertulis ketentuan hubungan pemberitaan dan
pemasaran di radio, termasuk regulasi advetorial dan sponsor dalam pemberitaan ?
5. Peran Pucuk Manajemen
Pucuk pimpinan radio:
- Seharusnya segera terlibat dalam proses pembuatan panduan advetorial, sponsor dan iklan
dalam pemberitaan. Ia selanjutnya bertanggung jawab memastikan bahwa proposal divisi
pemasaran tidak melanggar rambu iklan dalam pemberitaan, yang dapat mengganggu
integritas radio.
- Melakukan kajian dan tinjauan ulang setiap kesepakatan periklanan atau sponsor dalam
pemberitaan radio, terhadap kemungkinan yang mengganggu kredibilitas divisi
pemberitaan, profesionalnya dan citra radio.
- Menjadi penentu akhir terhadap proses dan aplikasi advetorial serta iklan dalam
pemberitaan radio.
6. Pola Komunikasi
Siapapun di radio seyogyanya bertanggung jawab terhadap kredibilitas pemberitaan, sekaligus
bisnis radio yang sukses. Radio dapat menjembatani pengertian antara seluruh unsur
pemberitaan dengan unsur pemasaran melalui berbagai cara:
- Pucuk pimpinan dapat mengundang seluruh manajer divisi mengamati dan mendiskusikan
produk pemberitaan
- Manajer Pemberitaan berbicara di hadapan kelompok klien untuk menjelaskan mengapa dan
bagaimana kebijakan editorial dibuat.
- Manajer Pemberitaan dapat membuat presentasi berkala bagi profesional pemasaran
mengenai proses perencanaan, peliputan dan produksi pemberitaan.
7. HAL HAKIKI
Bagi radio berkategori komersial (swasta), hak dan sekaligus kewajibannya adalah memproduksi siaran-siaran yang bermuara di pendapatan komersial. Apabila radio mengaku sebagai radio swasta, kegagalan terbesarnya adalah merugi ! Kecuali anda mengelola radio publik dan radio komunitas yang tidak mengandalkan iklan.
Jurnalisme radio merupakan ranah yang memiliki batasan ketat, terutama mengenai kehormatan independensi, kejujuran dan kemandirian.
HARMONISASI PEMBERITAAN DAN PEMASARAN RADIO
1. Hubungan Pemberitaan dan Periklanan
a. Untuk menarik perhatian pendengar sekaligus pengiklan, radio wajib menunjukkan
kredibilitasnya.
b. Terkait usaha menjual produk jurnalistik, tantangan terbesarnya melindungi integritas
independensi materi pemberitaan itu.
c. Dalam konteks periklanan, karya jurnalistik berpeluang besar mengalami konflik dengan
target ekonomi radio.
d. Menafikan independensi pemberitaan untuk menyenangkan sponsor iklan, mempercepat
keruntuhan fondasi bisnis radio karena keputusan ini memperlemah integritas radio dan
kebijakannya.
2. Landasan Pemikiran
Landasan Sikap:
- Karya jurnalistik seharusnya ditentukan semata-mata melalui ‘kebijakan pemberitaan’.
- Sponsor karya pemberitaan tidak berhak mendikte atau mempengaruhi isi pemberitaan.
- Isi pemberitaan seharusnya nyata berbeda dibandingkan isi periklanan.
Panduan :
- Manajer berperan menyusun panduan berisi ketentuan hubungan pemberitaan dan
penjualan harus dimiliki radio.
- Panduan berisi rambu-rambu tentang kebijakan karya pemberitaan yang boleh dan tidak
diiklankan.
- Panduan dibuat tertulis dan dimiliki divisi pemberitaan maupun penjualan.
- Manajer berkewajiban menyamakan persepsi panduan ini antara divisi pemberitaan maupun
penjualan dan kalangan periklanan.
- Fakta yang pernah terjadi: akibat panduan ini tidak terkomunikasikan dengan baik,
kesimpangsiuran kebijakan pemberitaan dan periklanan, membuat radio pada posisi
memalukan di hadapan pendengar dan klien periklanan.
3. Isi Panduan
- Apa yang dimaksud sebagai isi pemberitaan, dan isi pemberitaan seperti apa yang boleh
disponsori dan tidak.
- Apakah ada pemberitaan yang diperlakukan khusus dan tidak termasuk dalam kebijakan
yang sudah disusun. Bila ada apa alasannya.
- Bila divisi pemberitaan bermaksud merancang isi khusus untuk memenuhi kebutuhan
periklanan, advetorial misalnya, bagaimana kebijakan dan aturannya.
- Bagaimana sistem dan prosedur antara profesi pemberitaan dan pemasaran berkomunikasi,
khususnya yang menyangkut gagasan pemasaran.
- Siapakah dalam struktur organisasi radio yang berhak dan bertanggung jawab mengijinkan
memproduksi advetorial atau pemberitaan boleh disponsori iklan.
4. Pertanyaan Penting Hubungan Pemberitaan dan Pemasaran
- Apa dampak atau konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang bila radio membuat atau
tidak membuat sistem dan prosedur hubungan pemberitaan dengan pemasaran ?
- Apa persepsi pendengar ketika mereka mendengar sponsor atau iklan dalam pemberitaan,
termasuk advetorial. Bagaimana dengan kekhawatiran pendengar yang mempertanyakan
kemungkinan iklan atau sponsor mempengaruhi kebijakan pemberitaan, atau nampaknya
akan mempengaruhi isi pemberitaan. Akankah hal ini mengganggu citra dan reputasi radio ?
- Bagaimana manajer menjelaskan keputusan mengijinkan advetorial dan sponsor
pemberitaan kepada pendengar, personil siaran dan pemberitaan di radio ?
- Apakah manajer akan menuangkan secara tertulis ketentuan hubungan pemberitaan dan
pemasaran di radio, termasuk regulasi advetorial dan sponsor dalam pemberitaan ?
5. Peran Pucuk Manajemen
Pucuk pimpinan radio:
- Seharusnya segera terlibat dalam proses pembuatan panduan advetorial, sponsor dan iklan
dalam pemberitaan. Ia selanjutnya bertanggung jawab memastikan bahwa proposal divisi
pemasaran tidak melanggar rambu iklan dalam pemberitaan, yang dapat mengganggu
integritas radio.
- Melakukan kajian dan tinjauan ulang setiap kesepakatan periklanan atau sponsor dalam
pemberitaan radio, terhadap kemungkinan yang mengganggu kredibilitas divisi
pemberitaan, profesionalnya dan citra radio.
- Menjadi penentu akhir terhadap proses dan aplikasi advetorial serta iklan dalam
pemberitaan radio.
6. Pola Komunikasi
Siapapun di radio seyogyanya bertanggung jawab terhadap kredibilitas pemberitaan, sekaligus
bisnis radio yang sukses. Radio dapat menjembatani pengertian antara seluruh unsur
pemberitaan dengan unsur pemasaran melalui berbagai cara:
- Pucuk pimpinan dapat mengundang seluruh manajer divisi mengamati dan mendiskusikan
produk pemberitaan
- Manajer Pemberitaan berbicara di hadapan kelompok klien untuk menjelaskan mengapa dan
bagaimana kebijakan editorial dibuat.
- Manajer Pemberitaan dapat membuat presentasi berkala bagi profesional pemasaran
mengenai proses perencanaan, peliputan dan produksi pemberitaan.
7. HAL HAKIKI
Bagi radio berkategori komersial (swasta), hak dan sekaligus kewajibannya adalah memproduksi siaran-siaran yang bermuara di pendapatan komersial. Apabila radio mengaku sebagai radio swasta, kegagalan terbesarnya adalah merugi ! Kecuali anda mengelola radio publik dan radio komunitas yang tidak mengandalkan iklan.
Jurnalisme radio merupakan ranah yang memiliki batasan ketat, terutama mengenai kehormatan independensi, kejujuran dan kemandirian.
Radio media komunikasi yang Unik
Radio menyediakan dunia imajinasi tanpa batas dan membebaskan pendengar mengimajinasikan dunia visual dalam kepalanya.
Di antara sekian banyak jenis program acara radio, sandiwara radio merupakan media yang memungkinkan pendengar membebaskan imajinasinya.
Sandiwara radio atau drama radio menurut situs ensiklopedia, Wikipedia, adalah sebuah bentuk penyampaian cerita yang berbasis audio dan disiarkan di radio. Tanpa kehadiran komponen visual, sandiwara radio sangat tergantung pada kekuatan dialog, musik dan efek suara.
Dalam menulis naskah sandiwara radio, kita diharapkan untuk memperhatikan beberapa hal :
1. Cerita /plot.
Ada banyak cerita di sekeliling kita. Yang harus kita lakukan adalah menentukan mana yang akan kita jadikan sebagai tema utama. Jika kita telah menemukan tema cerita, segera tentukan plot atau alur cerita.
2. Karakter.
Karakter adalah tokoh yang akan memainkan peran dalam sandiwara radio kita, baik yang bersifat baik (protagonis) maupun jahat (antagonis). Karakter yang kita ciptakan sebaiknya cukup realistis dan sesuai dengan cerita.
3. Musik dan Efek suara.
Berbagai variasi efek suara dapat digunakan untuk menarik perhatian pendengar dan merekatkan imajinasinya sehingga menjadi satu gambaran yang utuh. Meski demikian, efek suara yang terdengar aneh/tidak lazim, bisa jadi malah membingungkan pendengar. Oleh karena itu, sebaiknya kita menggunakan efek suara yang familiar di telinga pendengar kita.
4. Dialog.
Dialog dalam naskah diharapkan cukup jelas menceritakan keadaan.
Setiap calon penulis drama radio harus paham karakteristik radio.
Bagaimana membuat naskah drama yang menarik ?
1. Sampaikan karakter sejelas mungkin dan sesering mungkin.
Agar pendengar selalu tahu siapa yang berbicara. Karakter ini bisa disampaikan oleh dirinya sendiri atau oleh karakter lain. Bisa pula oleh narator. Sebaiknya, setiap karakter khususnya karakter utama, disampaikan secara berkala, terutama di awal setiap scene. Karakter ini juga bisa ditunjukkan oleh suara yang khas/berbeda.
2. Buat naskah yang menarik pada awal setiap scene atau episode.
Sebenarnya, daya tarik ini bukan hanya naskah tapi juga sound effect atau musik. Tapi, naskah menjadi yang utama, karena berisi pesan yang jelas.
3.Jangan terlalu banyak pesan inti yang disampaikan dalam setiap episode/scene.
Buat inti cerita yang simpel dan mudah dicerna.
4. Ulangi beberapa pesan yang penting.
Caranya bermacam-macam. Bisa berupa pertanyaan dari lawan bicara, pengulangan oleh lawan bicara atau pengulangan dari pembicara.
5. Jelaskan setting drama dengan jelas dalam setiap scene.
Bisa disampaikan oleh narator, oleh para karakter atau menggunakan sound effect. Sampaikan di awal episode tentang cerita pada episode sebelumnya secara singkat
sumber: pojokspy.blogspot.com
Di antara sekian banyak jenis program acara radio, sandiwara radio merupakan media yang memungkinkan pendengar membebaskan imajinasinya.
Sandiwara radio atau drama radio menurut situs ensiklopedia, Wikipedia, adalah sebuah bentuk penyampaian cerita yang berbasis audio dan disiarkan di radio. Tanpa kehadiran komponen visual, sandiwara radio sangat tergantung pada kekuatan dialog, musik dan efek suara.
Dalam menulis naskah sandiwara radio, kita diharapkan untuk memperhatikan beberapa hal :
1. Cerita /plot.
Ada banyak cerita di sekeliling kita. Yang harus kita lakukan adalah menentukan mana yang akan kita jadikan sebagai tema utama. Jika kita telah menemukan tema cerita, segera tentukan plot atau alur cerita.
2. Karakter.
Karakter adalah tokoh yang akan memainkan peran dalam sandiwara radio kita, baik yang bersifat baik (protagonis) maupun jahat (antagonis). Karakter yang kita ciptakan sebaiknya cukup realistis dan sesuai dengan cerita.
3. Musik dan Efek suara.
Berbagai variasi efek suara dapat digunakan untuk menarik perhatian pendengar dan merekatkan imajinasinya sehingga menjadi satu gambaran yang utuh. Meski demikian, efek suara yang terdengar aneh/tidak lazim, bisa jadi malah membingungkan pendengar. Oleh karena itu, sebaiknya kita menggunakan efek suara yang familiar di telinga pendengar kita.
4. Dialog.
Dialog dalam naskah diharapkan cukup jelas menceritakan keadaan.
Setiap calon penulis drama radio harus paham karakteristik radio.
Bagaimana membuat naskah drama yang menarik ?
1. Sampaikan karakter sejelas mungkin dan sesering mungkin.
Agar pendengar selalu tahu siapa yang berbicara. Karakter ini bisa disampaikan oleh dirinya sendiri atau oleh karakter lain. Bisa pula oleh narator. Sebaiknya, setiap karakter khususnya karakter utama, disampaikan secara berkala, terutama di awal setiap scene. Karakter ini juga bisa ditunjukkan oleh suara yang khas/berbeda.
2. Buat naskah yang menarik pada awal setiap scene atau episode.
Sebenarnya, daya tarik ini bukan hanya naskah tapi juga sound effect atau musik. Tapi, naskah menjadi yang utama, karena berisi pesan yang jelas.
3.Jangan terlalu banyak pesan inti yang disampaikan dalam setiap episode/scene.
Buat inti cerita yang simpel dan mudah dicerna.
4. Ulangi beberapa pesan yang penting.
Caranya bermacam-macam. Bisa berupa pertanyaan dari lawan bicara, pengulangan oleh lawan bicara atau pengulangan dari pembicara.
5. Jelaskan setting drama dengan jelas dalam setiap scene.
Bisa disampaikan oleh narator, oleh para karakter atau menggunakan sound effect. Sampaikan di awal episode tentang cerita pada episode sebelumnya secara singkat
sumber: pojokspy.blogspot.com
Membuat Naskah Berita Radio yang Bernyawa

Pendengar cenderung menganggap berita radio adalah hal yang membosankan, kaku dan monoton. Kunci utama mengapa sebuah berita radio menjadi membosankan untuk didengar terletak pada kata-kata yang dipilih oleh si penulis berita. Jika si penulis berita kurang tepat memilih kata-kata, maka penyiar atau pembaca berita tidak akan bisa atau akan mengalami kesulitan memberikan nyawa agar berita tersebut nampak hidup pada saat disiarkan.
Apa saja yang harus dilakukan oleh seorang scriptwriter agar berita yang ditulisnya bisa hidup sewaktu disampaikan oleh newscaster?
Penggunaan kata kerja
Kata kerja memegang peranan penting dalam penulisan bahasa tutur. Pikirkanlah secara serius, karena pemilihan kata kerja akan mempengaruhi gaya penyampaian.
Contoh: Gempa bumi hebat mengguncang kawasan barat daya China. Di provinsi Sichuan gedung-gedung bertingkat terkoyak dan hancur luluh lantak. Gempa yang memukul China dengan kekuatan 7,8 pada skala richter ini merenggut nyawa sedikitnya 10.000 jiwa.
Hati-hati menggunakan kata sifat
Penulisan naskah naratif dan deskriptif, akan banyak ditolong oleh penggunaan kata sifat. Namun perlu dihindari penggunaan kata sifat yang bisa menimbulkan berbagai macam persepsi karena justru dapat mengaburkan pesan yang ingin kita sampaikan.
Contoh :
besar -> sebaiknya rincikan besarnya seperti apa
berwarna-warni -> sebaiknya sebutkan apa saja warnanya
drastis -> sebaiknya dijelaskan seberapa drastis dan lain sebagainya
Gunakan kalimat aktif
Dalam membuat bahasa tutur, penggunaan kalimat aktif adalah yang terbaik. Susunan kalimat aktif ‘Subyek - Predikat - Obyek’ akan mempermudah pemahaman naskah yang akan dibaca, sehingga newscaster akan menjadi lebih lancar dalam menyampaikan sebuah kalimat berita.
Contoh :
Bukan : 10.000 jiwa direnggut dalam gempa berkekuatan 7,8 skala richter di China
Tetapi : Gempa berkekuatan 7,8 skala richter merenggut 10.000 jiwa di China
Gunakan kalimat ‘kini’ atau present tense
Teorinya, sebuah berita radio menyajikan apa yang baru saja terjadi, apa yang sedang terjadi dan kira-kira apa yang akan segera terjadi. Sehingga lebih tepat jika sebuah naskah berita radio disusun dengan menggunakan present tense. Penggunaan kalimat yang mengesankan bahwa sebuah peristiwa sedang terjadi akan menimbulkan kesan bahwa berita yang kita siarkan adalah berita fresh dan menjadi hal yang menyegarkan di telinga pendengar.
Sedangkan susunan kalimat yang menggambarkan kejadian kemarin (past tense) dan yang akan datang (future tense) lebih cocok digunakan oleh jurnalis media cetak.
Contoh:
Bukan : Gempa bumi dahsyat telah mengguncang China.
Tetapi : Gempa bumi dahsyat mengguncang China.
Bukan : China akan menjadi tuan rumah olimpiade 2008
Tetapi : China menjadi tuan rumah olimpiade 2008
Bumikan kalimat dengan bahasa sehari-hari
Penggunaan bahasa sehari-hari akan membuat berita kita membumi, lebih akrab dengan telinga pendengar dan menambah vitalitas dari berita yang kita sampaikan. Caranya adalah dengan menyederhanakan bahasa formal, baik kata-kata maupun frasa yang kita jumpai dalam sebuah berita.
Contoh:
Bukan: Banjir telah membuat bengkel mendapat banyak pesanan untuk menservice banyak mobil yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Tetapi: Bengkel kebanjiran order memperbaiki mobil yang rusak terkena banjir.
Rasakan, bahasa sehari-hari seperti ‘kebanjiran order’ justru lebih ‘bernyawa’ dibandingkan dengan bahasa resmi.
Hindari bentuk negatif
Seperti halnya penggunaan kalimat aktif, sebuah naskah berita radio akan lebih mudah dipahami dan dibawakan oleh newscaster jika dibuat dengan menggunakan kalimat positif. Untuk itu rubahlah kalimat negatif menjadi positif, terutama pada saat membuat kalimat awal atau lead berita.
Contoh:
Bukan : Jika pemerintah tidak mengurangi subsidi BBM, sektor keuangan dan
perekonomian Indonesia bisa mengalami krisis hebat seperti pada tahun 1997
silam dan yang paling menderita adalah rakyat.
Tetapi : Pemerintah mengurangi subsidi BBM. Jika hal ini tidak dilakukan, sektor
keuangan dan perekonomian Indonesia bisa mengalami krisis hebat seperti pada
tahun 1997 silam dan yang paling menderita adalah rakyat.
Berikan tanda baca yang benar
Selain titik, koma, dan tanda tanya, tanda baca yang lazim digunakan dalam penulisan naskah radio adalah slash ‘/’ sebagai tanda jeda dan double slash ‘//’ untuk berhenti atau mengakhiri sebuah kalimat. Penggunaan tanda baca yang benar dan pada tempatnya, akan membantu penyiar dalam menyampaikan pesan yang tertulis melalui naskah. Selain agar pendengar bisa menangkap dengan tepat apa yang disampaikan oleh penyiar. Penggunaan tanda baca juga akan membantu penyiar dalam menata suara dan melagukan susunan kalimat yang disiarkan.
Seorang newscaster diharuskan membaca terlebih dahulu naskah berita atau tulisan yang akan disiarkannya dan biasakan untuk memberikan tanda secara pribadi, seperti garis bawah atau tanda-tanda tertentu dibagian yang harus diberi penekanan, dibaca dengan intonasi naik atau turun dan lain sebagainya.
sumber: pojokspy.blogspot.com
IKLAN RADIO
Radio merupakan media yang memiliki jangkauan selektif terhadap segmen pasar tertentu. Di Indonesia yang wilayahnya sangat luas, radio telah menjawab kebutuhan untuk meyakinkan komunikasi yang dapat memacu perubahan masyarakat.
Berbeda dengan media cetak, radio merupakan media auditif yang bersifat atraktif. Apa yang dilakukan radio ialah memperdengarkan suara manusia untuk mengutarakan sesuatu. Karena radio memiliki karakteristik khusus, maka copywriting yang disiapkan harus memperhatikan karakteristik tersebut.
KARAKTERISASI IKLAN RADIO
Radio merupakan media audituf dan atraktif, artinya mengandalkan pendengaran untuk menyapa pendengar. Bagi si pendengar, radio seperti berbicara dengannya. Karena itulah, maka iklan di radio memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Theater of the mind, artinya iklan yang didengar harus mampu menghasilkan pesan yang "bermain-main” di benak pendengar. Dengan kata lain, iklan itu harus mampu menyebabkan pendengar berimajinasi mengenai pesan iklan yang disampaikan.
2. Pribadi, artinya media yang paling intim dengan khalayak sasaran. Iklan di radio seperti tidak berjarak. Pesannya seperti orang yang berbicara langsung dengan kita.
3. Radio kurang menjadi perhatian penuh pendengarnya. Dengan demikian, iklan di radio didengarkan sambil melakukan pekerjaan lain.
4. Iklan ditayangkan hanya sekelebat, sekali dengar.
Dengan memerperhatikan karakteristik tersebut, seoang copywriter harus memperhatikanlima prinsip dalam menulis iklan radio. Berikut ini adalah prinsip-prinsip tersebut.
1. Menulis untuk berbicara, bukan untuk dibaca atau ditatap. Elemen radio adalah suara bukan teks. Dengan demikian, estetika yang dibuat adalah untuk indra pendengaran bukan indra penglihatan. "Sampo cocok untuk seluruh keluarga" bukan "Shampo X adalah sampo yang cocok digunakan oleh seluruh keluarga". Diksi yang digunakan adalah kata dan kalimat yang mudah dimengerti, yaitu akrab dalam percakapan sehari-hari. "Saya Titik Puspa", bukan "Saya adalah Titik Puspa". Kata "adalah" merupakan konsumsi media cetak sehingga harus dihilangkan. bahasa lebih dipentingkan dari pada tata bahasa.
2. Menulis sebagai bentuk komunikasi langsung. Copywriting yang dihasilkan juga bersifat langsung kepada target audience, yaitu pendengar radio. Tidak ada istilah pihak ketiga atau pihak keempat yang harus dituju.
3. Menulis dalam kerangka kreatif dari individu ke individu. Komunikasi siaran radio adalah hubungan antarpribadi. Citra yang dihidupkan adalah medium komunikasi personal. Sehingga copywriting yang diciptakan harus mencapai keakraban komunikasi personal, dengan jalan:
a. menghindari menulis dengan berpidato, kecuali jika memang konsep kreatifnya demikian.
b. bunyi tulisan harus membentuk suasana informal
c. copywriting harus menciptakan suasana akrab dan bersahabat
d. copywriting harus komunikatif, to the point. Satu ide, satu kalimat, serta ringkas dan padat.
4. Menulis dengan prinsip sekali ucap, langsung dimengerti. Karena syarat mutlak naskah radio adalah Clarity has Top Priority (kejelasan adalah prioritas utama). Kalimat yang panjang harus dibuat menjadi pendek dan sederhana.
5. Menulis dengan kesadaran bahwa hasil karyanya akan diwujudkan dalam bentuk suara. Kata dan gayanya berperan sebagai jembatan komunikasi sehingga peran penjualan dapat tersalurkan dengan baik, dengan demikian, maka:
a. kata-kata yang digunakan harus bermakna kongkrit,
b. jangan menggunakan kata-kata abstrak yang hanya berkitat di alam pikiran kreatif si copywriter sendiri
c. jagan menggunakan kata yang bunyinya mirip. Misalnya Dewi -- Deni, kentang--ketan, kepala--kelapa.
FORMAT IKLAN RADIO
Script iklan radio bentuknya seperti menulis naskah sandiwara atau screenplay. Script ditulis dengan bahasa lisan atau percakapan. Jadi tidak terlalu gramatikal, kecuali untuk lucu-lucuan. Dalam hal ini, bahasa lebih penting dari pada tata bahasa. Tentu saja dengan siapa kita berbicara atau siapa target audience kita, jangan pernah dilupakan.
Berbeda dengan iklan media cetak, iklan di radio mempunyai bahasa, batasan waktu, dan peristilahan yang khusus. Script iklan radio menggunakan kode tertentu yg diketahui secara umum oleh kalangan periklanan. Waktu untuk iklan radio dibatasi oleh durasi, dan dihitung berdasarkan detik. Biasanya ketententuan pengaturan waktu dalam iklan radio sebagai berikut:
· umumnya 60 detik (ada yang 30 atau 45 detik)
· 5-10 detik pertama sbg building situation (pendengar sudah tahu setting dan tokoh)
· detik ke-11 sampai ddengan 45 berisi konflik
· detik ke-45 hingga 60 berisi solusi
Oleh karena itu, selalu sediakan stopwatch pada saat Anda menulis script iklan radio. Untuk keamanan dalam penyiaran (agar tidak terpotong oleh acara lain di radio), sebaiknya durasi dibuat dua atau tiga detik lebih pendek. Misalnya durasi 60 detik, buatlah 58 detik.Walaupun terkadang ada juga media radion yang mau memberi toleransi beberapa detik. Mintalah bagian Media untuk bertanya kepada pengelola stasiun radio tentang ada tidaknya toleransi itu.
Untuk membuat iklan radio lebih menarik, tidak datar, dan tidak membosankan, buatlah semacam ucapan atau kata-kata pemancing perhatian di akhir dialog. Dalam bahasa Inggris biasanya disebut dengan book.
PERALATAN YANG DIPAKAI DALAM AMUNISI IKLAN RADIO
Jika iklan media cetak, selain bahasa amunisi sangat ditentukan oleh lay out, jenis font, dan juga warna; untuk iklan radio amunisi yang dipakai adalah
Suara Manusia
Musik
Jinggle
Sound effect, efek suara , biasanya ditulis SFX
Dalam beberapa iklan radio amunisi yang dipakai dari awal hingga akhir adalah musik dan jingle dengan suara manusia yang menyanyikan sebuah lagu mengiringi jingle tersebut. Iklan tersebut menarik untuk didengar ; dan pendengar memahami pesan yang disampaikan. Simaklah iklan produk Chaki dari Kentucy dan iklan rokok LA, berikut ini.
CHAKI LA
SUARA MANUSIA
Berbeda dengan sandiwara radio, untuk iklan radio kita tidak selalu bisa menentukan siapa yang nantinya akan membaca teks. Dalam iklan radio biasanya diterapkan hal-hal sebagai berikut.
1. Tokoh melakukan dialog atau monolog. Karakterisasi tokoh harus diperhatikan, cara yang termudah dengan menggunakan dialog laki-laki dan perempuan.
2. Karakter tokoh dapat diperkuat dengan menambahkan ciri seperti dialek, latah, atau
gagap.
3. Jika brand segender (laki-laki atau perempuan saja), pilihlah warna suara yang berbeda.
4. Istilah-istilah dalam script menyebutkan suara manusia, sebagai berikut:
· Man, tokoh laki-laki dapat juga diganti dengan nama Anton atau Ayah
· Women, tokoh perempuan dapat juga diganti dengan Devita atau Ibu
· VO (Voice Over): announcer, narrator, atau suara penyiar. Dalam script iklan VO sudah langsung ditentukan. Jika yang dibutuhkan adalah suara laki-laki ditulis dengan MVO, jika yang dibutuhkan suara perempuan ditulis dengan FVO.
· Crowd: suara orang banyak
Berikut ini merupakan contoh script iklan radio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengiklan : KPU
Brand : Pemilu 2004
Keterangan : Iklan layanan masyarakat
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Judul : Kucing dalam Karung
Intro : Musik Tanjidor Betawi (terdengar terus sampai akhir komersial)
SFX : Suasana di warung makan. kucing menjatuhkan gelas.
Man 1 : Eh Bang, udeh nggak waktunye lagi, Pemilu yang sekarang kite dapati
pemimpin seperti dapati kucing dalam karung.
Man 2 : Ah, si Abang bisa aje. Eh, maksudnya gimane?
Man 1 : Gini nih, di Pemilu 2004 beda banget nih ame Pemilu-Pemilu sebelumnya,
karene rakyat dapet memilih langsung calon anggota DPR, DPD, sampai
presiden secara langsung.
Man 2 : Nah trus caranye.
Man 1 : Ya, caranye dengan kite nyoblos gambar name-name calon idola kite, Bang.
Man 2 : Wah pastine di Pemilu 2004, bakal calonnye kagak nyari-nyari seperti
kucing dalam karung. Ya Bang, ye, ye, ye, ye Bang ye. La kata Abang
begitu tadi.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pemilu
Pemilu
Iklan tersebut menggunakan dua tokoh yang kesemuanya laki-laki. Tentu saja diharapkan tokoh yang memerankan Man 1 dan Man 2 memiliki warna suara yang berbeda. Sangat jelas bahwa karakter dalam iklan adalah orang berbudaya Betawi sehingga dialek yang ucapkan pemeran adalah dialek Betawi. Untuk menggambarkan karakter, iklan dini juga diiringi oleh musik Tanjidor yang sangat khas Betawi. Di akhir iklan digunakan book untuk penarik, yaitu ucapan "Ya Bang, ye, ye, ye, ye Bang ye. La kata Abang begitu tadi".
Setelah script tersebut diolah di dapur rekaman, jadilah iklan tersebut sebagai berikut. Menarik bukan?
KEKUATAN DAN KELEMAHAN IKLAN DI MEDIA RADIO
Sebagai sebuah media untuk beriklan, radio mempunyai kekuatan dan juga kelemahan. Tentu saja hal ini perlu diperhatikan agar pengiklan maupun biro iklan dapat memilih media dengan tepat untuk program pemasarannya.
Kekuatan Iklan di Media Radio
1. Radio bersifat Audience Selectivity, artinya radio mempunyai pendengar yg spesifik. Dengan demikian pengiklan dapat memilih radio yang programnya cocok dengan pesan iklan yang akan disampaikan.
2. Radio merupakan media intrusif, artinya iklan dapat hadir di tengah siaran tanpa mengakibatkan orang beralih ke siaran lain. Hal ini menyebabkan radio memiliki efektivitas untuk menyela perhatian pendengar dan menciptakan minat.
3. Biaya produksi iklan radio rendah dibandingkan iklan di media lain
4. Radio dapat mendukung kampanye iklan di media yang lain.
5. Radio merupakan media yang fleksibel dibandingkan media cetak karena dapat dinikmati sambil melakukan kegiatan lain.
6. Radio merupakan media yang tidak musiman
7. Radio menawarkan peluang kreatif yang unik bagi pembuat iklan karena tidak menyajikan gambar. Radio bermain dalam theater of the mind
8. Radio bersifat bersifat mobil, artinya dapat dibawa dengan mudah.
9. Radio memiliki jangkauan yang baik di kalangan pedesaan yang umumnya tidak dapat dijangkau oleh kabar.
Kelemahan Iklan di Media Radio
1. Radio tidak dapat mendemonstrasikan produk yang diiklankan. Media ini akan menjadi masalah bagi pengiklan produk tertentu.
2. Radio menyiarkan hanya sekelebat dan sekali dengar. Pendengar tidak dapat mengulangnya, berbeda dengan iklan di media cetak.
3. Radio bersifat terbagi, artinya dalam satu wilayah terdapat banyak stasiun radio. Dengan demikian, pendengar hanya akan memilih satu dari sekian banyak stasiun radio. Sifat terbagi ini, mengakibatkan pengiklan mengalami ketumpangtindihan dalam menjangkau pasar.
4. Pengiklan sulit memperoleh bukti bahwa stasiun radio telah menyiarkan iklan sesuai pesanan. Hal ini berbeda dengan iklan di media cetak yang sangat mudah untuk dikontrol.
LATIHAN
Secara berkelompok (3 – 4 mahasiswa) bacalah script iklan radio di bawah ini. Kemudian, diskusikan pertanyaan-pertanyaan dan laporkanlah hasil diskusi kelompok Saudara. Tugas dikirim melalui blog: peni-usd.vox.com.
Script 1:
____________________________________________________________
Pengiklan : AUTO2000
Judul : TIDAK PERLU BURU-BURU
-----------------------------------------------------------
Ibu : Lho Pak Toyotanya belum dibawa ke Auto2000?
Bapak : Tidaaaak perrlluuuuu buruuuu-buruuuu………..
Masssih ….. baaanyaaaaaak waktuuuuuuu ……
Ibu : Pak kok ngomongnya dipanjangin begitu sih?
Bapak : Soalnya sekarang jam kerja Auto2000 di-
peerpanjaaaaaaang ……..
Senin sampai Jumat buka jam 7 sampai jam 9 malam.
Ibu : Wah sampai waktu kita gosok gigi dong?
Bapak : Kalau Sabtu dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore.
Minggu dari jam 9 sampai jam 3 sore juga.
Ibu : Ah aku mau ikut ke ya Pak?
Bapak : OK. Mau berangkat jam berapa?
Ibu : Tidaaak perrlluuuu buruuuuu-buruuuuu ………
Ibuuu dandaaaaaaaan duuullluuuuuu …………..
MVO : Auto2000
Kami memberi bukti. Bukan janji _____________________________________________________________
Script 2 :
_____________________________________________________________
Pengiklan : PUSAT BAHASA
(Iklan Layanan Masyarakat)
Judul : SEMINAR BAHASA
--------------------------------------------------------------------
Man : (Dengan logat Jawa dan suara sok tau)
Kuncinya adalah nationalism. Untuk menjadi bangsa yang besar kita
harus confident dengan nationalism kita. Nah untuk mengachieve semua
itu, claim nationalism harus di-follow up-i dengan attitude yang represent
our personality kita. So, jangan sok luar negeri minded-lah. Orang lain
akan men-judge kita dari what we do, how we behave dan last but not least
dari the way we talk.
Crowd : Uuuuuuuuuhhhhh ….!!!!
Man : Lho kenapa? Corect me if I’m wrong.
FVO : Kami mengerti Anda bukan tidak mau menggunakan
Bahasa Indonesia secara baik dan benar. Bila Anda
membutuhkan bantuan, hubungi Pusat Bahasa di
4750406. 4750406.
Man : Lho … saya berhak bicara begini. Yang penting
saya tidak melanggar eee …eee…..apa? Hak
Azazi Manusia Inggrisnya apa? Lali aku…..
Crowd : Human right!!!!!
_______________________________________________________________
Hal-hal yang didiskusikan
1. Bagaimanakah cara brand tersebut dieksekusi ?
2. Bagaimanakah bahasa yang dipakai dalam script iklan tersebut?
3. Adakah unsur book? Jelaskan
4. Adakah unsur Unexpected/ ketakterdugaan? Jelaskan!
5. Adakah unsur Entertaining? Jelaskan!
Kirimkan hasil diskusi Anda melalui web: peni-usd.vox.com
RINGKASAN
Radio merupakan media audituf dan atraktif, artinya mengandalkan pendengaran untuk menyapa pendengar. Karena itulah, iklan di radio memiliki karakteristik 1) Theater of the mind, 2) pribadi, artinya media yang paling intim dengan khalayak sasaran, 3) iklan radio kurang menjadi perhatian penuh pendengarnya, 4) Iklan ditayangkan hanya sekelebat, sekali dengar.
Script iklan radio bentuknya seperti naskah sandiwara atau screenplay. Script ditulis dengan bahasa lisan atau percakapan. Jadi tidak terlalu gramatikal, kecuali untuk lucu-lucuan. Dalam hal ini, bahasa lebih penting dari pada tata bahasa.
Berbeda dengan iklan media cetak, iklan di radio mempunyai bahasa, batasan waktu, dan peristilahan yang khusus. Script iklan radio menggunakan kode tertentu yg diketahui secara umum oleh kalangan periklanan. Waktu untuk iklan radio dibatasi oleh durasi, dan dihitung berdasarkan detik. Biasanya ketententuan pengaturan waktu dalam iklan radio adalah 60, 45, dan 30 detik. Peralatan yang dipakai dalam amunisi iklan radio adalah suara manusia, musik, jingle, dan efek suara.
TES FORMATIF
1. Carilah sebuah produk untuk rencana iklan radio!
2. Carilah marketing brief kepada produsen produk tersebut!
3. Buatlah brief kreatif dari produk tersebut!
4. Buatlah script iklan radio untuk produk tersebut!
5. Presentasikanlah script iklan Anda di depan kelas. (Sebelum dipresentasikan, kirimkan script iklan radio Anda ke web: peni-usd.vox.com)
DAFTAR PUSTAKA
Agustrijanto, 2002. Copywriting. Bandung Rosda
Hakim, Budiman, 2006. Lanturan tapi Relevan. Yogyakarta: Galang.
Kasali, Renald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di
Indonesia. Jakarta: Grafiti
Madjadikara, Agus S. 2004. Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan. Jakarta:
Gramedia.
Sutherland, Max dan Alice K. Sylvester. Advertising and the Mind of the
Consumer. Jakarta: PPM
http://peni-usd.vox.com/library/post/kegiatan-belajar-2-iklan-radio.html
Berbeda dengan media cetak, radio merupakan media auditif yang bersifat atraktif. Apa yang dilakukan radio ialah memperdengarkan suara manusia untuk mengutarakan sesuatu. Karena radio memiliki karakteristik khusus, maka copywriting yang disiapkan harus memperhatikan karakteristik tersebut.
KARAKTERISASI IKLAN RADIO
Radio merupakan media audituf dan atraktif, artinya mengandalkan pendengaran untuk menyapa pendengar. Bagi si pendengar, radio seperti berbicara dengannya. Karena itulah, maka iklan di radio memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Theater of the mind, artinya iklan yang didengar harus mampu menghasilkan pesan yang "bermain-main” di benak pendengar. Dengan kata lain, iklan itu harus mampu menyebabkan pendengar berimajinasi mengenai pesan iklan yang disampaikan.
2. Pribadi, artinya media yang paling intim dengan khalayak sasaran. Iklan di radio seperti tidak berjarak. Pesannya seperti orang yang berbicara langsung dengan kita.
3. Radio kurang menjadi perhatian penuh pendengarnya. Dengan demikian, iklan di radio didengarkan sambil melakukan pekerjaan lain.
4. Iklan ditayangkan hanya sekelebat, sekali dengar.
Dengan memerperhatikan karakteristik tersebut, seoang copywriter harus memperhatikanlima prinsip dalam menulis iklan radio. Berikut ini adalah prinsip-prinsip tersebut.
1. Menulis untuk berbicara, bukan untuk dibaca atau ditatap. Elemen radio adalah suara bukan teks. Dengan demikian, estetika yang dibuat adalah untuk indra pendengaran bukan indra penglihatan. "Sampo cocok untuk seluruh keluarga" bukan "Shampo X adalah sampo yang cocok digunakan oleh seluruh keluarga". Diksi yang digunakan adalah kata dan kalimat yang mudah dimengerti, yaitu akrab dalam percakapan sehari-hari. "Saya Titik Puspa", bukan "Saya adalah Titik Puspa". Kata "adalah" merupakan konsumsi media cetak sehingga harus dihilangkan. bahasa lebih dipentingkan dari pada tata bahasa.
2. Menulis sebagai bentuk komunikasi langsung. Copywriting yang dihasilkan juga bersifat langsung kepada target audience, yaitu pendengar radio. Tidak ada istilah pihak ketiga atau pihak keempat yang harus dituju.
3. Menulis dalam kerangka kreatif dari individu ke individu. Komunikasi siaran radio adalah hubungan antarpribadi. Citra yang dihidupkan adalah medium komunikasi personal. Sehingga copywriting yang diciptakan harus mencapai keakraban komunikasi personal, dengan jalan:
a. menghindari menulis dengan berpidato, kecuali jika memang konsep kreatifnya demikian.
b. bunyi tulisan harus membentuk suasana informal
c. copywriting harus menciptakan suasana akrab dan bersahabat
d. copywriting harus komunikatif, to the point. Satu ide, satu kalimat, serta ringkas dan padat.
4. Menulis dengan prinsip sekali ucap, langsung dimengerti. Karena syarat mutlak naskah radio adalah Clarity has Top Priority (kejelasan adalah prioritas utama). Kalimat yang panjang harus dibuat menjadi pendek dan sederhana.
5. Menulis dengan kesadaran bahwa hasil karyanya akan diwujudkan dalam bentuk suara. Kata dan gayanya berperan sebagai jembatan komunikasi sehingga peran penjualan dapat tersalurkan dengan baik, dengan demikian, maka:
a. kata-kata yang digunakan harus bermakna kongkrit,
b. jangan menggunakan kata-kata abstrak yang hanya berkitat di alam pikiran kreatif si copywriter sendiri
c. jagan menggunakan kata yang bunyinya mirip. Misalnya Dewi -- Deni, kentang--ketan, kepala--kelapa.
FORMAT IKLAN RADIO
Script iklan radio bentuknya seperti menulis naskah sandiwara atau screenplay. Script ditulis dengan bahasa lisan atau percakapan. Jadi tidak terlalu gramatikal, kecuali untuk lucu-lucuan. Dalam hal ini, bahasa lebih penting dari pada tata bahasa. Tentu saja dengan siapa kita berbicara atau siapa target audience kita, jangan pernah dilupakan.
Berbeda dengan iklan media cetak, iklan di radio mempunyai bahasa, batasan waktu, dan peristilahan yang khusus. Script iklan radio menggunakan kode tertentu yg diketahui secara umum oleh kalangan periklanan. Waktu untuk iklan radio dibatasi oleh durasi, dan dihitung berdasarkan detik. Biasanya ketententuan pengaturan waktu dalam iklan radio sebagai berikut:
· umumnya 60 detik (ada yang 30 atau 45 detik)
· 5-10 detik pertama sbg building situation (pendengar sudah tahu setting dan tokoh)
· detik ke-11 sampai ddengan 45 berisi konflik
· detik ke-45 hingga 60 berisi solusi
Oleh karena itu, selalu sediakan stopwatch pada saat Anda menulis script iklan radio. Untuk keamanan dalam penyiaran (agar tidak terpotong oleh acara lain di radio), sebaiknya durasi dibuat dua atau tiga detik lebih pendek. Misalnya durasi 60 detik, buatlah 58 detik.Walaupun terkadang ada juga media radion yang mau memberi toleransi beberapa detik. Mintalah bagian Media untuk bertanya kepada pengelola stasiun radio tentang ada tidaknya toleransi itu.
Untuk membuat iklan radio lebih menarik, tidak datar, dan tidak membosankan, buatlah semacam ucapan atau kata-kata pemancing perhatian di akhir dialog. Dalam bahasa Inggris biasanya disebut dengan book.
PERALATAN YANG DIPAKAI DALAM AMUNISI IKLAN RADIO
Jika iklan media cetak, selain bahasa amunisi sangat ditentukan oleh lay out, jenis font, dan juga warna; untuk iklan radio amunisi yang dipakai adalah
Suara Manusia
Musik
Jinggle
Sound effect, efek suara , biasanya ditulis SFX
Dalam beberapa iklan radio amunisi yang dipakai dari awal hingga akhir adalah musik dan jingle dengan suara manusia yang menyanyikan sebuah lagu mengiringi jingle tersebut. Iklan tersebut menarik untuk didengar ; dan pendengar memahami pesan yang disampaikan. Simaklah iklan produk Chaki dari Kentucy dan iklan rokok LA, berikut ini.
CHAKI LA
SUARA MANUSIA
Berbeda dengan sandiwara radio, untuk iklan radio kita tidak selalu bisa menentukan siapa yang nantinya akan membaca teks. Dalam iklan radio biasanya diterapkan hal-hal sebagai berikut.
1. Tokoh melakukan dialog atau monolog. Karakterisasi tokoh harus diperhatikan, cara yang termudah dengan menggunakan dialog laki-laki dan perempuan.
2. Karakter tokoh dapat diperkuat dengan menambahkan ciri seperti dialek, latah, atau
gagap.
3. Jika brand segender (laki-laki atau perempuan saja), pilihlah warna suara yang berbeda.
4. Istilah-istilah dalam script menyebutkan suara manusia, sebagai berikut:
· Man, tokoh laki-laki dapat juga diganti dengan nama Anton atau Ayah
· Women, tokoh perempuan dapat juga diganti dengan Devita atau Ibu
· VO (Voice Over): announcer, narrator, atau suara penyiar. Dalam script iklan VO sudah langsung ditentukan. Jika yang dibutuhkan adalah suara laki-laki ditulis dengan MVO, jika yang dibutuhkan suara perempuan ditulis dengan FVO.
· Crowd: suara orang banyak
Berikut ini merupakan contoh script iklan radio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengiklan : KPU
Brand : Pemilu 2004
Keterangan : Iklan layanan masyarakat
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Judul : Kucing dalam Karung
Intro : Musik Tanjidor Betawi (terdengar terus sampai akhir komersial)
SFX : Suasana di warung makan. kucing menjatuhkan gelas.
Man 1 : Eh Bang, udeh nggak waktunye lagi, Pemilu yang sekarang kite dapati
pemimpin seperti dapati kucing dalam karung.
Man 2 : Ah, si Abang bisa aje. Eh, maksudnya gimane?
Man 1 : Gini nih, di Pemilu 2004 beda banget nih ame Pemilu-Pemilu sebelumnya,
karene rakyat dapet memilih langsung calon anggota DPR, DPD, sampai
presiden secara langsung.
Man 2 : Nah trus caranye.
Man 1 : Ya, caranye dengan kite nyoblos gambar name-name calon idola kite, Bang.
Man 2 : Wah pastine di Pemilu 2004, bakal calonnye kagak nyari-nyari seperti
kucing dalam karung. Ya Bang, ye, ye, ye, ye Bang ye. La kata Abang
begitu tadi.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pemilu
Pemilu
Iklan tersebut menggunakan dua tokoh yang kesemuanya laki-laki. Tentu saja diharapkan tokoh yang memerankan Man 1 dan Man 2 memiliki warna suara yang berbeda. Sangat jelas bahwa karakter dalam iklan adalah orang berbudaya Betawi sehingga dialek yang ucapkan pemeran adalah dialek Betawi. Untuk menggambarkan karakter, iklan dini juga diiringi oleh musik Tanjidor yang sangat khas Betawi. Di akhir iklan digunakan book untuk penarik, yaitu ucapan "Ya Bang, ye, ye, ye, ye Bang ye. La kata Abang begitu tadi".
Setelah script tersebut diolah di dapur rekaman, jadilah iklan tersebut sebagai berikut. Menarik bukan?
KEKUATAN DAN KELEMAHAN IKLAN DI MEDIA RADIO
Sebagai sebuah media untuk beriklan, radio mempunyai kekuatan dan juga kelemahan. Tentu saja hal ini perlu diperhatikan agar pengiklan maupun biro iklan dapat memilih media dengan tepat untuk program pemasarannya.
Kekuatan Iklan di Media Radio
1. Radio bersifat Audience Selectivity, artinya radio mempunyai pendengar yg spesifik. Dengan demikian pengiklan dapat memilih radio yang programnya cocok dengan pesan iklan yang akan disampaikan.
2. Radio merupakan media intrusif, artinya iklan dapat hadir di tengah siaran tanpa mengakibatkan orang beralih ke siaran lain. Hal ini menyebabkan radio memiliki efektivitas untuk menyela perhatian pendengar dan menciptakan minat.
3. Biaya produksi iklan radio rendah dibandingkan iklan di media lain
4. Radio dapat mendukung kampanye iklan di media yang lain.
5. Radio merupakan media yang fleksibel dibandingkan media cetak karena dapat dinikmati sambil melakukan kegiatan lain.
6. Radio merupakan media yang tidak musiman
7. Radio menawarkan peluang kreatif yang unik bagi pembuat iklan karena tidak menyajikan gambar. Radio bermain dalam theater of the mind
8. Radio bersifat bersifat mobil, artinya dapat dibawa dengan mudah.
9. Radio memiliki jangkauan yang baik di kalangan pedesaan yang umumnya tidak dapat dijangkau oleh kabar.
Kelemahan Iklan di Media Radio
1. Radio tidak dapat mendemonstrasikan produk yang diiklankan. Media ini akan menjadi masalah bagi pengiklan produk tertentu.
2. Radio menyiarkan hanya sekelebat dan sekali dengar. Pendengar tidak dapat mengulangnya, berbeda dengan iklan di media cetak.
3. Radio bersifat terbagi, artinya dalam satu wilayah terdapat banyak stasiun radio. Dengan demikian, pendengar hanya akan memilih satu dari sekian banyak stasiun radio. Sifat terbagi ini, mengakibatkan pengiklan mengalami ketumpangtindihan dalam menjangkau pasar.
4. Pengiklan sulit memperoleh bukti bahwa stasiun radio telah menyiarkan iklan sesuai pesanan. Hal ini berbeda dengan iklan di media cetak yang sangat mudah untuk dikontrol.
LATIHAN
Secara berkelompok (3 – 4 mahasiswa) bacalah script iklan radio di bawah ini. Kemudian, diskusikan pertanyaan-pertanyaan dan laporkanlah hasil diskusi kelompok Saudara. Tugas dikirim melalui blog: peni-usd.vox.com.
Script 1:
____________________________________________________________
Pengiklan : AUTO2000
Judul : TIDAK PERLU BURU-BURU
-----------------------------------------------------------
Ibu : Lho Pak Toyotanya belum dibawa ke Auto2000?
Bapak : Tidaaaak perrlluuuuu buruuuu-buruuuu………..
Masssih ….. baaanyaaaaaak waktuuuuuuu ……
Ibu : Pak kok ngomongnya dipanjangin begitu sih?
Bapak : Soalnya sekarang jam kerja Auto2000 di-
peerpanjaaaaaaang ……..
Senin sampai Jumat buka jam 7 sampai jam 9 malam.
Ibu : Wah sampai waktu kita gosok gigi dong?
Bapak : Kalau Sabtu dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore.
Minggu dari jam 9 sampai jam 3 sore juga.
Ibu : Ah aku mau ikut ke ya Pak?
Bapak : OK. Mau berangkat jam berapa?
Ibu : Tidaaak perrlluuuu buruuuuu-buruuuuu ………
Ibuuu dandaaaaaaaan duuullluuuuuu …………..
MVO : Auto2000
Kami memberi bukti. Bukan janji _____________________________________________________________
Script 2 :
_____________________________________________________________
Pengiklan : PUSAT BAHASA
(Iklan Layanan Masyarakat)
Judul : SEMINAR BAHASA
--------------------------------------------------------------------
Man : (Dengan logat Jawa dan suara sok tau)
Kuncinya adalah nationalism. Untuk menjadi bangsa yang besar kita
harus confident dengan nationalism kita. Nah untuk mengachieve semua
itu, claim nationalism harus di-follow up-i dengan attitude yang represent
our personality kita. So, jangan sok luar negeri minded-lah. Orang lain
akan men-judge kita dari what we do, how we behave dan last but not least
dari the way we talk.
Crowd : Uuuuuuuuuhhhhh ….!!!!
Man : Lho kenapa? Corect me if I’m wrong.
FVO : Kami mengerti Anda bukan tidak mau menggunakan
Bahasa Indonesia secara baik dan benar. Bila Anda
membutuhkan bantuan, hubungi Pusat Bahasa di
4750406. 4750406.
Man : Lho … saya berhak bicara begini. Yang penting
saya tidak melanggar eee …eee…..apa? Hak
Azazi Manusia Inggrisnya apa? Lali aku…..
Crowd : Human right!!!!!
_______________________________________________________________
Hal-hal yang didiskusikan
1. Bagaimanakah cara brand tersebut dieksekusi ?
2. Bagaimanakah bahasa yang dipakai dalam script iklan tersebut?
3. Adakah unsur book? Jelaskan
4. Adakah unsur Unexpected/ ketakterdugaan? Jelaskan!
5. Adakah unsur Entertaining? Jelaskan!
Kirimkan hasil diskusi Anda melalui web: peni-usd.vox.com
RINGKASAN
Radio merupakan media audituf dan atraktif, artinya mengandalkan pendengaran untuk menyapa pendengar. Karena itulah, iklan di radio memiliki karakteristik 1) Theater of the mind, 2) pribadi, artinya media yang paling intim dengan khalayak sasaran, 3) iklan radio kurang menjadi perhatian penuh pendengarnya, 4) Iklan ditayangkan hanya sekelebat, sekali dengar.
Script iklan radio bentuknya seperti naskah sandiwara atau screenplay. Script ditulis dengan bahasa lisan atau percakapan. Jadi tidak terlalu gramatikal, kecuali untuk lucu-lucuan. Dalam hal ini, bahasa lebih penting dari pada tata bahasa.
Berbeda dengan iklan media cetak, iklan di radio mempunyai bahasa, batasan waktu, dan peristilahan yang khusus. Script iklan radio menggunakan kode tertentu yg diketahui secara umum oleh kalangan periklanan. Waktu untuk iklan radio dibatasi oleh durasi, dan dihitung berdasarkan detik. Biasanya ketententuan pengaturan waktu dalam iklan radio adalah 60, 45, dan 30 detik. Peralatan yang dipakai dalam amunisi iklan radio adalah suara manusia, musik, jingle, dan efek suara.
TES FORMATIF
1. Carilah sebuah produk untuk rencana iklan radio!
2. Carilah marketing brief kepada produsen produk tersebut!
3. Buatlah brief kreatif dari produk tersebut!
4. Buatlah script iklan radio untuk produk tersebut!
5. Presentasikanlah script iklan Anda di depan kelas. (Sebelum dipresentasikan, kirimkan script iklan radio Anda ke web: peni-usd.vox.com)
DAFTAR PUSTAKA
Agustrijanto, 2002. Copywriting. Bandung Rosda
Hakim, Budiman, 2006. Lanturan tapi Relevan. Yogyakarta: Galang.
Kasali, Renald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di
Indonesia. Jakarta: Grafiti
Madjadikara, Agus S. 2004. Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan. Jakarta:
Gramedia.
Sutherland, Max dan Alice K. Sylvester. Advertising and the Mind of the
Consumer. Jakarta: PPM
http://peni-usd.vox.com/library/post/kegiatan-belajar-2-iklan-radio.html
Subscribe to:
Posts (Atom)